Catatan itu muncul di layar komputer tiga hari lalu. Dari Sensen Gustafsson, teman yang bermukim di Swedia. Catatannya aktual, tentang pembelian kapal survei senilai Rp. 14 miliar oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan.
“Geli rasanya,” komentar Sensen tentang pembelian itu. Bukan karena kapal itu tidak bagus, melainkan karena pilihan jenis kapalnya, sebuah yacht Lagoon 500. Kapal jenis Katamaran ini, menurut dia, hanya akan memuaskan hasrat personal ketimbang tujuan riset dan pemantauan lingkungan. Maklum, kapal layar jenis ini lazimnya untuk para konglomerat kaya dunia dengan fasilitas layaknya hotel bintang 5.
Saya sepenuhnya sepakat dengan Sensen. Apalagi dia kredibel dalam soal ini. Sebagaimana keluarga lainnya di Swedia, dia memiliki kapal yang biasa digunakan untuk menyinggahi pulau-pulau yang amat banyak di negerinya. Suaminya, saat tahu Kementerian Kelautan dan Perikanan membeli Lagoon 500 untuk survei, pun berseru takjub. “Are you kidding?” katanya. Lagoon 500, baginya, lebih mungkin untuk bersenang-senang dibandingkan penelitian.
Dari sudut harga dan kelengkapan, kapal ini adalah gambaran kelengkapan dan kemewahan. Tidak hanya bagi kita yang sulit menghitung angka nol pada nilai 14 miliar, melainkan juga bagi para pemilik kapal layar di dunia. Amat mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa ada hal yang berlebihan, tidak proporsional, dan keterlaluan dalam masalah ini.
Citra kemewahan akan sangat terasa saat fakta yang hadir adalah sesuatu yang tak terbayangkan bakal terjangkau. Kalau kita tak mampu membeli mobil senilai Rp. 200 juta, maka kita akan menyebutnya sebagai barang mewah. Kalau kita tak mampu membeli rumah seharga Rp. 1 miliar, maka kita akan menilai rumah seharga itu sebagai kemewahan. Tapi, kalau kita punya mobil senilai Rp. 300 juta dan rumah seharga Rp. 5 milyar, maka kita takkan lagi merasakan kemewahan pada mobil dan rumah dengan nilai di bawahnya.
Kalau pemilik ide pembelian Lagoon 500 menilai kapal itu dalam jangkauan kemampuan mereka, maka ia takkan merasakan kemewahan kapal itu. Mereka akan menyebutnya sebagai kewajaran. Sayangnya, hal ini bermakna bahwa ia berjarak amat jauh dengan masyarakat pada umumnya, masyarakat yang uangnya mereka setor dalam bentuk pajak dan menjadi modal pembelian kapal itu.
Kesenjangan semacam itu berbahaya. Pemegang kebijakan tumpul nuraninya dan menggunakan standar kehidupan yang menjulang seakan-akan sebagai haknya. Takkan mengherankan, bila mereka juga akan berlaku serupa saat membeli mobil dinas, membangun pagar kantor, atau merenovasi rumah jabatan. Padahal semua modal pembelian, pembangunan, atau renovasi berasal dari rakyat yang akan menganggap semua itu sebagai kemewahan.
Di masa lalu, sekitar masa pergeseran abad ke-19 ke abad ke-20, perilaku ini muncul di kalangan priyayi, pengemban jabatan dari pemerintah kolonial, dan para bupati. Tentu bukan Lagoon 500 atau Toyota Crown Royal Saloon yang mereka pertontonkan kepada rakyat pembayar pajak atau upeti, melainkan kuda-kuda terbaik dan tergagah. Para Bupati biasa menukarkan kuda-kuda mereka yang patah kakinya dengan kuda-kuda bagus milik priyayi rendahan. Mirip seorang menteri yang mengeluhkan kendaraan dinas Toyota Camry berusia lima tahun dan begitu senang karena kendaraan penggantinya bernilai tiga kali lipat.
Ini adalah persoalan gaya hidup yang terpaut jarak amat jauh dengan kehidupan rakyat. Elite-elite birokrasi tak merasa bersalah menggunakan uang rakyat untuk kepentingan yang menurut mereka wajar belaka, padahal rakyat menganggapnya sebagai hal yang tak patut. Di era modern, mereka mungkin akan melakukan “penelitian” di atas Lagoon 500 seraya mengajak anak istri karena empat kamar di dalam kapal itu memang nyaman untuk berpesiar. Ini tak ada bedanya dengan para bupati di masa lalu yang acap mengajak kawan-kerabatnya untuk berburu harimau atau rusa, walaupun sadar betapa mahalnya pesiar semacam itu.
Kesenjangan ini pula yang sebenarnya muncul dalam persoalan penggusuran di rumah-rumah dinas militer. Mereka yang terusir lazimnya adalah keluarga kelas prajurit hingga perwira menengah, bukan perwira tinggi. Saat kebutuhan rumah untuk mereka tak terpenuhi, segelintir perwira justru berjarak dengan gaya hidup mereka yang berbeda. Boleh dibilang, semua kesatuan memiliki lapangan golf. Demikian pula, banyak kotama di daerah dan korps memiliki fasilitas semacam itu. Untuk siapa? Tentu bukan untuk tamtama atau bintara.
Kemewahan yang melampaui rasa kepatutan masyarakat adalah hal konyol. Dalam banyak kasus malah memalukan. Saya teringat cerita tentang para utusan pemerintah kita saat menegosiasikan utang dengan Jepang. Mereka datang ke tempat pertemuan menggunakan mobil mewah, sementara para pejabat negara pemberi utang justru hadir naik kereta bersama masyarkat mereka pada umumnya.
Arys Hilman
Solilokui, Republika Ahad 31 januari 2010.
================================================================
Arys Hilman, hmm sejak baca artikel berjudul kegagalan empati, saya jadi suka dengan tulisan wartawan yang satu ini. Seru, dan kalo lagi beli Republika selalu nyari-nyari tulisan dari Arys Hilman. Sayangnya sampe sekarang saya ga tau apakah tulisan beliau terbit rutin.
Lagian saya juga ga langganan Republika. Waktu di Kampus sih tinggal ke Al-Hurriyah aja, baca gratis..hehehe....
Kamis, 11 Februari 2010
Lagoon 500
Jumat, 15 Januari 2010
Just
Hmmm, kemarin seperti karam....
mengambang tak menentu sampai tenaga habis
Perlahan tenggelam,
sembari mengepak-ngepak di atas air,
semakin tenggelam,
Hingga tersisa kepal tangan di atas permukaan air
Dan yang saya tahu,
setelah karam..
tak ada kapal yang kembali ke permukaan dengan sendirinya!!
Sholat Gerhana
Pengalaman pertama, di depan banyak orang..pasti nervous...
you've done a great job akhi..
"bacaannya aja yang kurang, panjang pendeknya" Makasih bu.
Entahlah tiba-tiba lupa.
hari ini saat jadi imam shalat gerhana di A-Taqwa
Selasa, 15 Desember 2009
Khalil Gibran
Bisikan rahasiamu pada ilalang,
maka jangan salahkan angin yang mengabarkan pada ranting-ranting cemara.
Rabu, 09 Desember 2009
Orang yang Setia
Mohammad Natsir. Lahir di Alahan Panjang Sumatera Barat, 100 tahun lalu. Natsir adalah pemimpin partai Masyumi dan pendiri Dewan Dakwah Islamiyah. Sejak belia sampai usianya yang lanjut terus berjuang untuk cita-cita tegaknya Islam. Tak pernah lelah dan berhenti. Baru berhenti saat takdir ajal menjemputnya.
Natsir adalah orang yang sangat setia. Setia terhadap istri yang dinikahinya. Meski usia istrinya lebih tua, ia tetap setia sampai akhir hayat. Orang Jawa bilang pernikahan Natsir dengan Siti Nahar disebut sebagai pernikahan: “Kaken ninen-ninen”. Pernikahan yang langgeng atau abadi, yang hanya dipisahkan oleh kematian. Natsir tak pernah tergoda dengan perempuan lain. Pemimpin Masyumi itu tetap setia dengan satu istri yang menyertainya di saat suka dan duka. Bahkan ketika Natsir meninggalkan Jakarta menuju hutan di Sumatera Barat, sang istri juga menyertainya. Sungguh luar biasa. Bersama-sama terus sampai ajal memisahkan diantara keduanya.
Dua tokoh besar Indonesia pernah berpolemik soal poligami. Soekarno menentang keras paham poligami, sedang Natsir ada di sisi lain, membela poligami. Soekarno menganggap poligami mirip penjajahan dan perbudakan yang dilakukan para lelaki terhadap kaum perempuan dan menganggap ajaran Islam adalah salah karena memberi peluang bagi poligami. Sebaliknya, Natsir membela poligami. Baginya tak ada yang salah dengan poligami. Meski poligami harus disertai dengan aturan dan syarat yang ketat. Salah satu syaratnya di dalam Al-Qur’an adalah harus adil. Tentu yang menarik bagi kedua pemimpin itu adalah realita dalam kehidupan keduanya. Soekarno yang menentang habis-habisan poligami justru istrinya ada di mana-mana, tetapi Natsir tetap setia dengan istrinya yang telah memberikan lima orang anak. Bahkan sampai akhir hayatnya. Kebiasaan tidak berpoligami bukan hanya dianut Natsir, tetapi juga seluruh pemimpin Masyumi.
Natsir adalah seorang yang sangat setia pada cita-cita Islam. Ia seorang yang sangat cerdas. Ketika selesai ujian di SMA (Belanda), Natsir mendapatkan nilai rata-rata A. Sebenarnya, pemimpin Masyumi itu mempunyai kesempatan untuk melanjutkan ke sekolah Kedokteran di Belanda. Namun kesempatan itu tak diambilnya. Ia memilih berguru kepada Ustadz A. Hasan, pemimpin Persis di Bandung. Perjumpaan Natsir dengan hasan itu kelak memberi pengaruh tersendiri bagi kehidupannya, terutama berkaitan dengan pandangan keagamaannya. Ketika masih belia, Natsir pernah berguru kepada Haji Agus Salim, bersama-sama dengan Roem, Prawoto, Kasman, Yusuf Wibisono, dan tokoh-tokoh Masyumi lainnya, yang tergabung dalam Jong Islamiten Bond (Organisasi Pemuda Islam).
Perjumpaan Natsir dengan A. Hasan dan Haji Agus Salim menumbuhkan kekentalan dan kecintaannya terhadap Islam. Maka, tak heran setelah Indonesia merdeka, kaum muda Islam, termasuk salah satunya adalah Natsir, memelopori berdirinya partai Islam Masyumi, yang merupakan singkatan dari Majelis Syuro Muslimim Indonesia. Melalui sebuah ikrar di bulan November 1947, terbentuklah Masyumi itu, yang merupakan pencerminan gabungan dari seluruh potensi Islam. Tentu yang paling menarik sesudah Pemilu 1955 dan Masyumi mendapatkan suara 22%, Partai itu memelopori perjuangan di Konstituante, agar Islam menjadi dasar Negara.
Pidato-pidato para pemimpin Masyumi di Konstituante dibukukan dalam Capita Selecta, mencerminkan padangan yang sangat jelas, bagaimana para pemimpin Masyumi dengan sungguh-sungguh ingin menjadikan Islam sebagai dasar Negara. Pidato Natsir lebih jelas lagi membandingkan antara ideologi Pancasila dengan Islam. Natsir menegaskan ideologi Pancasila, menurut pemimpin Masyumi itu, adalah ideologi la diniyah atau ideologi sekuler.
Pertentangan antara Natsir dengan Soekarno memuncak, ketika Soekarno sudah sangat jauh dipengaruhi oleh PKI. Soekarno benar-benar menjadi alat PKI, yang secara sistematis mengeliminir unsur-unsur Islam dari kekuasaan Negara. Ketika Natsir merasa terancam jiwanya, maka ia meninggalkan Jakarta menuju Sumatera Barat dan bergabung dengan sejumlah perwira militer, yang menentang Soekarno, yang kemudian dikenal dengan pemberontakan PPRI. Sampailah, tindakan presiden Soekarno, membubarkan Masyumi tahun 1960, dengan alasan para pemimpinya terlibat dalam pemberontakan. Partai Masyumi mati, hanya karena para pemimpinya yang sangat setia pada cita-cita ideologi Islam. Sesudah Masyumi dibubarkan, para pemimpinnya dipenjarakan Soekarno di rumah tahanan Keagungan, di daerah Kota.
Natsir dan para pemimpin Masyumi lainnya, ketika keluar dari penjara Keagungan setelah adanya pergantian kekuasaan lalu mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah di tahun 1967. Pendirian Dewan Dakwah Islamiyah oleh para pemimpin Masyumi, terutama Natsir, adalah penggambaran dari pribadi-pribadi yang memiliki komitmen terhadapa Islam yang luar biasa. Orientasi kegiatan Dewan Dakwah Islamiyah lebih ditujukan pada bidang-bidang dakwah. Dewan Dakwah Islamiyah pulalah yang pertama kali mengirimkan da’i-da’inya ke daerah-daerah yang jauh dari Jakarta.
Natsir di tahun 1980-an, membangun masjid dan asrama mahasiswa di berbagai kota besar, terutama di kampus-kampus negeri seperti UI, ITB, IPB, UGM, UNDIP, UNAIR, UNILA, UNHAS, UNAND, dan USU. Pemikiran Natsir adalah ingin membangun kader-kader baru, yang berkomitmen tinggi terhadap Islam. Masjid dan asrama menjadi satu agar mahasiswa terbiasa dengan masjid dan mereka dibina dengan nilai-nilai Islam. Inilah jasa Natsir yang tak terhingga, bukan hanya aspek-aspek politik semata yang dipikirkannya, tapi juga pembentukan kader-kader yang tujuannya untuk melanjutkan perjuangan Islam.
Natsir yang setia dengan cita-cita dan ideologi Islam, akhirnya bersimpang jalan dengan Jenderal Soeharto. Karena Soeharto tak beda dengan Soekarno yang diktator dan tiranik. Natsir menulis modus vevendi, yaitu pandangan Natsir terhadap misi zending Kristen yang berkembang pesat di Indonesia. Pandangan itu di sampaikan ketika ada usaha-usaha pemerintah untuk menciptakan kerukunan umat beragama. Namun pandangan-pandangan Natsir yang sangat jelas dalam memposisikan umat Islam dengan golongan lainnya, terutama Kristen, tak mendapat jawaban yang positif karena wakil golongan Kristen, yang diwakili Pendeta Tambunan, menolak substansi dialog. Akhirnya dialog itu mengalami jalan buntu.
Natsir juga menolak penyeragaman ideologi Pancasila melalui P4. Tulisan-tulisan Natsir menanggapi usaha-usaha penyeragaman itu dimuat di berbagai buku penerbitan dan majalah Dewan Dakwah. Natsir menolak Islam menjadi subordinasi ideologi negara Pancasila. Karena Islam itu agama yang diturunkan oleh Allah Ta’ala, yang tidak mungkin disejajarkan apalagi dijadikan subordinasi dari Pancasila. Inilah yang mengakibatkan ketegangan antara Natsir dengan Soeharto. Ketika situasi memuncak dan kritis, Natsir bergabung dengan sejumlah tokoh, termasuk kalangan militer, membentuk kelompok Petisi ’50. Akibatnya natsir dikucilkan, bahkan dimatikan secara perdata, termasuk dilarang bepergian ke luar negeri.
Para pemimpin Masyumi mempunyai andil yang penting ketika awal pemerintahan Orde Baru. Melalui Natsir lah proses normalisasi hubungan dengan Malaysia terwujud. Almarhum Jenderal Ali Murtopo datang ke rumah Natsir meminta agar pemimpin Masyumi itu membantu menyelesaikan konflik dengan Malaysia. Peranan Natsir yang lain dan tak kalah penting adalah mendorong pemerintah Jepang membantu Indonesia yang terpuruk selama pemerintahan Soekarno. Melalui pertemuan Natsir dengan PM Takeo Fukuda, kemudian Jepang membantu Indonesia dengan menanamkan modalnya ke Indonesia. Namun phobia para para pemimpin militer terhadap para pemimpin Masyumi, yang dicurigai membawa ideologi Islam tidak pernah hilang. Ketika Natsir dan kawan-kawan ingin merehabilitasi partai Masyumi ditolak. Lalu ketika ingin mendirikan partai baru, Parmusi, para tokoh Masyumi tersebut dilarang duduk dalam kepengurusan, seperti Mohammad Roem, yang terpilih secara aklamasi oleh Muktamirin, ditolak oleh Jenderal Alamsyah, yang mewakili pemerintah waktu itu.
Natsir adalah tokoh yang setia dengan pilihan hidupnya. Ia hidup dengan zuhud. Rumahnya di jalan Jawa, konon adalah pemberian Pak Idid Djunaedi. Saat itu, Natsir ditunjuk Presiden Soekarno menjadi Perdana Menteri, sesudah berhasilnya “Mosi Integral” yang menyatukan Indonesia dari negara Federal menjadi NKRI. Waktu itu Natsir tinggal di sebuah gang sempit di daerah Kramat. Maka tidak mungkin seorang perdana menteri tinggal di sebuah gang sempit.
Rumah di jalan Jawa itu ditempati sampai akhir hayatnya. Mobil yang ia gunakan setiap hari dari jalan Jawa ke Kramat 45 adalah mobil ovel yang sudah tua dan tak pernah ganti. Natsir tidak mempunyai peninggalan rumah peristirahatan di puncak-puncak bukit, mobil mewah, atau rekening ratusan milyar. Hidupnya sangat zuhud dan wara’.
Natsir sangat dihormati oleh berbagai pemimpin dunia, terutama di Timur Tengah. Jika ia melakukan kunjungan ke sebuah negara Timur Tengah, ia mendapatkan penghormatan seperti kepala pemerintahan, tetapi ia tetap bersahaja. Ia pernah mendapatkan penghargaan dan hadiah dari Raja Faisal. Namun, itu semua tidak digunakan untuk pribadinya. Natsir sangat dekat dengan Raja Faisal, tapi tidak pernah memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.
Natsir benar-benar murid yang setia dari Haji Agus Salim dan A. Hasan. Cerdas dan setia pada cita-cita ideologi dan perjuangan Islam. Tak pernah luntur oleh apapun. Tak tergoda dengan kenikmatan dunia. Gurunya, Haji Agus Salim dan A. Hasan memberikan tauladan yang sempurna bagi kehidupannya. Kita perlu meneladani. Wallahu ‘alam.
Mashadi
Suara Islam edisi 48 (15-28 Rajab 1429 H/18-31 Juli 2008 M)
dengan sedikit perubahan yang tidak merubah arti.
Kamis, 01 Oktober 2009
ironi
Di Sumatera sana, gempa masih menyisakan getaran kecil, di sini pelantikan Anggota Dewan "yang terhormat" dengan anggaran 11 M.
Negeri penuh ironi
Senin, 31 Agustus 2009
lost
Untuk 1 kehilangan kecil, reaksi pertama yang saya lakukan tadi sangatlah buruk. Aduuuh, udah berkali-kali ngga berubah. Padahal semuanya titipan. Arrrggggh, terlambat berpikir, padahal kalau rasionya tadi di pakai...huuuuuum.
======================================================================
Benda putih kecil itu.....kenapa reaksinya harus seperti itu???????
Minggu, 26 Juli 2009
rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrd
Kita ada di kelebatan masa,
di mana mata tak berguna,
cobalah kau tanya cermin
dia pun akan mengamini...
Langkahkanlah kaki pada hati,
pada kilat-kilat mata yang khianat..
di sini, ataupun di sana
dia takkan bertahan...
Amiiin.....
Hari ini, Dia mengabulkan lagi Do'aku
do'aku setahun yang lalu.
Terima kasih ya, Allah.
Jawaban itu selalu saja tak terduga.
Ampuni aku Ya Allah.
Kamis, 25 Juni 2009
Unproven
Kawan baikku....aku ingin menjebakmu...(sembari mengumbar senyum kemenangan)
Senyum kemenangan=Senyum tipis dengan mata memicing....
Dia tidak akan memberi beban yang melebihi kemampuanmu, come on!
Rabu, 24 Juni 2009
Da vinci Code
Ketika membaca novel/cerpen atau sejenisnya, aku terlalu sering melewatkan halaman yang menggambarkan detail fisik seseorang, gedung, ruangan atau yang semacamnya, tetapi akan kembali setelah membaca halaman-halaman selanjutnya.
Dalam hidup, aku juga terlalu sering untuk tidak tertarik pada hal-hal kecil, tetapi akan mengingatnya sekuat tenaga setelah beberapa waktu.
Demi cerita yang utuh, demi kenangan (indah) yang sempurna.