Laman

Selasa, 30 November 2010

Angkutan Umum

Angkutan umum. Apa menariknya? Penumpang yang penuh sesak, sering terkena macet. Pokoknya tidak nyaman! Tapi untukku mungkin sedikit berbeda. Mungkin juga karena keterpaksaan lantaran ketakutan untuk membawa motor, tapi sepertinya itu cuma faktor kecil saja. Aku merasa nyaman dengan angkutan umum, mulai dari angkutan kota, metro mini/miniarta, bus kota, sampai kereta api (kalo busway belum pernah coba :D). Bahkan naik metromini ketika larut malam memberikan nuansa yang lebih. Jalanan Jakarta yang mulai lengang jadi seperti lintasan balap untuk para sopir. Sebagai penumpang, aku sih cuma bisa banyak istighfar dan mohon ampun maklum brutal banget bawanya. Jadi sulit membedakan Metromini dengan Mesjid karena sama-sama tempat mengingat Allah yang intense.


Kenapa angkutan umum menarik? Karena sering sekali dapat pengalaman (kejadian menarik), baik secara visual, audio maupun menjadi pelakunya. Ditambah kesempatan berbuat baik yang begitu besar terutama kalau naik kereta api dan di sana (kereta api-red) juga paling sering menemukan kejadian-kejadian menarik.


Contohnya, seminggu yang lalu di dalam angkot D10. Ketika seseorang yang (sepertinya) mengalami keterbelakangan mental ujug-ujug naik saat ada penumpang yang turun. Sang Supir pun kontan tidak suka dan mengusirnya. Bisa jadi karena dia berpikir pasti anak ini ga bayar dan itu bakalan membuat sang supir merugi karena armada D10 masih cukup jarang. Padahal trayeknya sangat panjang sehingga banyak orang yang rela gelantungan ketimbang menunggu angkot D10 selanjutnya (termasuk aku :D). Cukup beralasan ditinjau dari dunia yang memang sudah sangat money oriented.


Dalam hati aku berucap ya Allah, hanya untuk 2000 rupiah ko begitu banget sih (cara ngusirnya terlalu kasar). Entah lah kenapa jadi kelu untuk berucap udah bang gapapa, nanti saya yang bayar. Walaupun bisa jadi karena kalau penumpang seperti itu naik, selain tidak bayar, juga akan membuat penumpang lainnya enggan untuk naik atau merasa tidak nyaman. Pikiran ku pun melayang jauh. Sepertinya sudah menjadi tabiat umum manusia untuk memandang rendah pada manusia yang tidak sempurna. Masih ingat beberapa tahun lalu di stasiun pasar minggu, ketika seorang pengemis yang sangat bau mendekati ku dan teman-teman. Salah seorang temanku, sambil menutup hidung, berkata bau banget (dengan sedikit berbisik). Aku ga habis pikir ko bisa ya berucap seperti itu didepan subjek. Kalau aku berada pada posisi pengemis itu, pasti akan merasa sangat sakit dan tertohok. Walaupun kenyataannya memang seperti itu. Bayangkan, ketika mendekati seseorang yang ga dikenal dan orang itu berkata bau sambil menutup hidung dan memalingkan muka… Owhhh man, what did you say?


Padahal orang-orang yang kurang tersebut adalah pengingat kita. Bahwa kita jauh lebih beruntung dari mereka. Bahwa Allah sudah mengaruniakan nikmat-Nya, dalam bentuk fisik dan harta, yang lebih banyak ketimbang mereka. Bahwa mata kita, atau tangan kita, atau kaki kita, lebih sempurna dari mereka. Kenapa kita tidak coba untuk saling menghargai? Kenapa kita tidak coba untuk menjaga perasaan mereka? Bukankah kita diajari untuk saling menghargai, entah dari sekolah ataupun dari orangtua kita.


Sekali lagi, mereka hanya pengingat kita, bahwa kita sudah diberi nikmat berlebih. Ayo kita bersyukur.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. 14:7)


Jumat, 05 November 2010

Di Balik Mentawai

Kamis, 04 November 2010

SETELAH TSUNAMI MENTAWAI

Pejabat Sipil dan Militer yang Kelelahan



PADANG — Mentawai telah memberi kita sebuah tembang baru yang pilu. Sekaligus memberi kita ruang untuk perasaan dan pengetahuan. Semuanya makin sekarang. Keprihatinan meluas. Ada yang bertindak, ada yang berkoar. Ada yang diam, ada yang tak peduli.



Tsunami di sana, merupakan yang tercepat di dunia. Sekejap saja, monster itu langsung menyebar maut. Mentawai jadi berita dunia. Lalu pada Senin (1/11) saya terbang ke Mentawai bersama Gubernur Irwan Prayitno. Saya melihat garut kelelahan di wajahnya. Ketika saya postingkan foto Irwan dan saya di atas helikopter ke facebook, teman-teman mengomentarinya. Antara lain, mereka bertanya, “Kenapa wajah gubernur terlihat lelah.” Yang lelah bukan hanya gubernur, tapi juga wagub serta Danrem dan bupati Kepulauan Mentawai.



Menurut seorang dokter kepada saya sekitar 6 tahun silam, jika dokter bedah habis melakukan operasi berat pada pasien, maka ia harus istirahat sehari dua, karena kalau tidak berdampak pada jiwanya. Di dunia wartawan, jika usai melakukan liputan berat seperti ke Mentawai, boleh istirahat sehari dua. Tak istirahat juga tak apa, tapi harus mau mencari suasana enjoy, hiburlah dirimu. Itulah sebabnya kenapa antara lain, dokter dan wartawan suka karaoke. Sesekali ke Jakarta, he he he.... Hiburlah diri, agar tidak stres. Kalau wartawan tak suka menghibur dirinya, maka kabarnya orang lain akan salah melulu di matanya. Dia saja yang benar.



Menurut saya, gubernur memang harus istirahat barang sehari dua. Kalau tidak ia akan sakit kuning. Sejak dilantik, ia seperti mobil putus rem saja. Teman-teman wartawan peliput di kantor gubernur menjadi saksinya. Lasak benar, berjalan saja maunya. Tiap sebentar ke daerah. Mungkin karena baru menjabat. Gempa dan tsunami Akan halnya gempa 7,2 SR yang menimbulkan tsunami di Mentawai terjadi pada Senin malam. Padang panik. Warga menuju ke ketinggian di bawah guyuran gerimis. Pada saat yang sama, Gubernur Irwan Prayitno terlihat berkeliling kota memantau suasana. “Pak Gubernur kaliliang kota,” kata wartawan Singgalang, Adi Hazwar kepada saya, malam itu.



Saya tak hirau benar, sebab saya punya protap sendiri kalau gempa datang. Begitu gempa, saya lari dengan mobil atau dibonceng teman, sampai ke depan pasar Lapai. Di sana saya parkir, memantau suasana. Setengah jam atau lebih saya kembali ke kantor. Atau ke Simpang Haru, parkir sesudah lampu merah. Aman, balik lagi. Kenapa saya harus pergi? Saya menghindari kemungkinan tsunami yang datang tak terdeteksi. Sirene tak bisa diharapkan, waktu latihan pekak telinga dibuatnya. Datang yang sesungguhnya, sirene itu anok. Kenapa Lapai labih favorit, karena sesampai di sana, berarti tak ada jembatan yang akan patah atau ambruk akibat gempa. Selanjutnya tinggal jalan kaki ke Ampang. Saya takut kalau jembatan patah, tak ada jalan keluar lagi dari pusat kota.



Gubernur ke Jerman menjadi janggal bagi sebagian orang, wajar saja bagi sebagian lainnya. Yang tak wajar, rakyat tidak peduli. Dia di Jerman Jumat (5/11) dan besok siangnya kembali ke Indonesia. “Ambo hanyo 1,5 hari di Jerman, sayang peluang investasi tidak diambil, urusan gempa oleh Wagub,” Irwan berkirim SMS kepada saya, kemarin. Menurut agendanya, Irwan ke Jerman bersama enam gubernur. Ke sana Irwan mengurus investasi bidang infrastruktur. Semoga saja, bisa mengurus bouy sekalian, yaitu alat pendeteksi tsunami. Menurut Ketua DPD Irman Gusman, kepergian Irwan ke sana, untuk kepentingan Sumbar.



Dari segi, “gubernur lelah,” wajar ia rehat sehari dua. Kalau pelesiran, menurut dia, semua negara Eropa sudah dijelajahinya selama ia menjadi anggota DPR. “Sekarang untuk investasi, agendanya padat, saya mohon pengertian,” kata dia lagi. Saya kira Gubernur Irwan bukan orang kurang akal. Ia telah memertimbangan segala hal. Tapi, itu tadi, hak orang pula untuk sinis dan setuju atas perjalanannya ke Jerman. Antara lain, itulah risiko pilihan sekaligus risiko seorang pemimpin. Akan dipuji sekaligus akan dikirik.



Yang menarik justru aktivitasnya sejak gempa 26 Oktober 2010. Senin malam keliling kota, Selasa rapat koordinasi, karena ternyata Mentawai dilanda tsunami. Rabu Wapres Boediono datang dan ditemani Irwan terbang ke Mentawai. Wapres pulang, Irwan tinggal. Kamis giliran Presiden SBY yang datang ke Mentawai. SBY pulang siang, Irwan pulang malam. Begitu sampai di Padang, rapat dan langsung jumpa pers. Jumat menemani SBY. Irwan bergabung dengan Wagub Muslim Kasim yang baru pulang dari luar negeri. Segera rapat dengan Pangdam Bukit Barisan. Sabtu sibuk lagi bersama Wagub mengurus bencana. Wagub terbang ke Mentawai. Minggu Irwan ke daerah, kalau tak salah Payakumbuh.



Senin (1/11) terbang ke Mentawai bersama saya dan teman-teman. Selasa ke Payakumbuh meresmikan sekolah. Selasa menerima Menteri Fadel Muhammad. Rabu terbang ke Jerman. Wagub Wagub di Mentawai pada Sabtu (30/10). Pulang 3 Nobember. Empat hari di sana. Muslim sempat menemani Ketua PMI Jusuf Kalla yang dua hari pula di sana. Empat hari tak ganti baju, AC/DC. Nyaris bau bada badannya. Kepala Dinas Prasjal dan Tarkim Sumbar Doddy Ruswandi setali tiga uang. Apa boleh buat. Ketika pada Senin (1/11) pagi Gubernur Irwan dan saya serta sejumlah pemred mendarat di Mentawai, di helikopter ada dua tas pakaian. Satu milik Muslim lainnya milik Doddy.



Pada Rabu (3/11) kemarin, Muslim terbang lagi ke Mentawai menemami Menteri Fadel Muhammad. Malah di Mentawai, Irwan tiap sebentar ditelepon oleh hampir semua suratkabar dan televisi. Di Mentawai, Wagub Muslim sempat pula jadi ‘reporter’ Danrem Saya menemukan Danrem 032 Wirabraja Kol Mulyono di Mentawai. “Bapak tak pulang-pulang,” kata stafnya. Sejak Rabu pekan lalu smapai Rabu kemarin, Mulyono masih di sana. Ia mengendalikan berbagai gerak relawan, distribusi bantuan. Danrem risau kalau rela wan terdampar, seperti yang terjadi dua hari lalu. Karena itu, tentara ini berusaha mencarinya.



Wartawan asing yang lambat dapat kapal, lantas menuduh diusir, berusaha pula ia jelaskan kepada publik, “tidak ada pengusiran” Ia memberi informasi ke Tanah Tepi, menerima telepon dari wartawan. Ia tentu juga menerima telepon dari istri dan anaknya di Padang. Tentara ini, pada Senin lalu, saya lihat di Tuapejat. Ia menyambut kedatangan Gubernur Irwan. Kami terbang ke Muntei Baru-Baru, ia telah tiba pula di sana. Bupati Akan halnya Bupati Kepulauan Mentawai, Edison Saleleubaja, merupakan pejabat yang selain sibuk, lelah, letih juga harus mengemban tugas lebih berat. Namanya saja bupati. Edison, pada Senin lalu saya jumpai memakai sepatu boat hitam sampai ke lulut. Wajahnya ‘gersang’. Ia menjadi tumpuan harapan sekaligus kekesalan warganya sendiri.



Bantuan yang menumpuk di posko induk, menjadi tanggungjawabnya. Saya melihat, ia tidak kosentrasi lagi. Namun sang bupati berusaha tampil prima, apalagi silih berganti pejabat penting datang ke sana. “Bapak kurang tidur, makan juga telat terus,” kata stafnya kepada saya. Itulah hal-hal yang sempat terdeteksi oleh wartawan Sing galang dan sebagian jadi berita. Lalu, Irwan ke Jerman. Selanjutnya terserah Anda. (Kj)



Sumbernya


Minggu, 31 Oktober 2010

Sedikit tambahan

dear brothers and sisters,

Mari berdoa untuk bangsa kita tercinta atas semua reaksi dan sabda alam yang terjadi di berbagai wilayah indonesia.

Sedikit berbagi cerita tentang mbah maridjan, dari twitter salim a fillah seorang penulis buku asal jogja...

MbahMaridjan yang shalih, tawadhu', ahli i'tikaf, penuh pengabdian, yang selalu sambut kami seperti cucu sendiri; namamu dalam doa ini.."

"Rak sami sugeng to wayah?", begitu selalu kau sambut kami dalam senyum, MbahMaridjan. Lalu kami bising di rumahmu, & kau i'tikaf di Masjid."

Kami sering merusak kebunmu untuk Outbond, MbahMaridjan. Tapi kau malah tawarkan ubi, "Nek kersa nedhi pohung njedhol piyambak nggih wayah!""

Pernah juga acara besar kami di tempatmu, MbahMaridjan, para ikhwan tidur di Masjid. Dingin menusuk. Kau bangun pada pukul 03.00, tahajjud."

Sehabis Shubuh kau, MbahMaridjan, akrabi kami. Kau sajikan kopi, tapi kau sendiri puasa. Dari lisanmu, butir-butir kebijaksanaan mengalir."

Pendaki sering minta restumu MbahMaridjan. Kau lepas mereka naik. Tapi nanti di atas, kau bisa mendadak muncul, "Ampun medal mriki wayah!""

Pendaki shalih sama sekali tak merasakan aura mistikmu MbahMaridjan. Soal kau bisa muncul mendadak, pastilah sebab kau faham jalan & medan."

Jika kau MbahMaridjan telah wafat, izinkan kami mengenang akhlaq indahmu, keakraban tulus, keteguhan, dan dirimu yang kadang disalahfahami."

Kami saksi, kau MbahMaridjan sang Syuriah PCNU Cangkringan, hidup dalam iman & bukan kesyirikan, ibadahmu membuat iri, santunmu mengharukan"

Mbah Marijan, Layak di Puji atau di Caci??

Sang juru kunci Merapi meninggal dalam keadaan sujud. Siapa yg tidak ingin meninggal seperti itu?. Salah satu ciri kemuliaan dalam menjemput kematian. Dan tersirat pada jasad mbah Marijan.


Sebenarnya mana yang lebih tepat diberikan pada mbah Marijan. Pujian atau cacian? Tindakan beliau memang memancing pro dan kontra. Secara logika dan pertimbangan kemanfaatan, semestinya bliau mengambil langkah untuk menyelamatkan diri. Langkah yang diyakini banyak orang sebagai langkah paling tepat. Bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi karena mbah Marijan merupakan tokoh yang disegani, tingkahnya diikuti masyarakat. Kesalahan sedikit berakibat fatal, bukan hanya untuk dirinya, tetapi orang-orang yang mengikutinya. Lima belas korban yang meninggal disekitar rumah mbah Marijan dianggap sebagai akibat pilihan membahayakan yang diambil oleh lelaki 'roso' ini.


Karena alasan inilah pendapat-pendapat miringpun muncul di facebook. Bahkan ada yang menulis tindakan ini disebut sebagai -maaf- ketololan, karena dianggap tidak bijak dalam mengambil keputusan, dan terkesan 'menghalangi' program zero tolerance dalam penanganan bencana. Kasar memang, tapi itulah pendapat.


Disisi lainnya, pengguna FB yang lainpun mengungkapkan, bahwa beliau pernah diskusi dgn warga Cangkringan, ternyta mbah Marijan selalu berpesan pada warga untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk meninggalkan Merapi, meskipun bliau tidak turun. Terbukti asisten dan keluarganya selamat dari tragedi ini.


Teringat ketika Merapi meletus pada tahun 2006, mbah pernah berkata bahwa bliau tidak akan pergi dari merapi kecuali diminta langsung oleh Sri Sultan HB IX. Sultan yang mengamanahkan merapi, tapi telah wafat puluhan tahun silam. Bahkan bujukan Sri Sultan HB X pun tidak digubris. Kemudian beliau dengan gagah berani malah berlari menuju kearah gunung disaat penduduk yang lain mengungsi. Membuktikan keteguhannya, dan (anehnya) bliau selamat. Menguatkan kesan "roso" yang menempel pada lelaki tua itu, sekaligus menebar aroma klenik dan mistis yang tajam. Entah kebenaran aroma ini, karena di sisi lain beliau dikenal sebagai orang yang kental beribadah, dan itikafnya pun kuat.


Saat Merapi 'terbatuk' kemaren, pengamatan empiris mbah Marijan salah. Dalam kesederhanaan di sudut rumah, mbah meninggal dengan posisi kepala yang serendah-rendahnya sejajar tanah. Merendah tapi posisi yang disebut Tuhan sebagai posisi yang sangat tinggi. Hanya Allah yang tahu, bagaimana nilai kematian mbah. Karena bagi sebagian orang, mbah adalah simbol mistis (syirik) dan ketidakbijakan.


Terlepas dari pro dan kontra, bagaimanapun sy belajar, mbah adalah potret orang biasa yang terangkat karena keteguhan prinsipnya. Lakunya berkata tentang amanah, kesetiaan, dan tanggung jawab yang pantang dikhianati, untuk menjaga gunung merapi sampai beliau mati. Sosok abdi yang benar-benar mengabdi. Laku sederhana yang dibuktikan dengan nyawa. Beda dengan orang-orang yang banyak berbicara, berkomentar, namun komitmennya hanya diujung bibir. Istilah Jawanya.. JARKONI: Ujar ra iso nglakoni (banyak bicara, tapi tak bisa menjalankan). Sesuatu yang sangat dimurka oleh Allah.


"Jangan terkaget bila nanti orang yang kau sangka ahli neraka berlari kencang menuju syurga. Sedangkan kau sendiri ternyata merangkak ketakutan ke arah syurga" tulis salah seorang kawan dalam status Facebooknya. Tak jelas siapa yang dimaksud. Tapi yang pasti, kita bukan hakim, dan tak berhak menuduh atau mengklaim nilai kematian seseorang.


Mbah marijan mungkin dianggap legenda merapi. Dan seperti legenda lainnya, selalu penuh kontroversi.


*Bot Pranadi*

Ketika pagi berita yang terdengar adalah Mbah Maridjan masih hidup, tapi dalam keadaan lemas. Subhanallah pun terucap, sembari berpikir efeknya akan sangat luar biasa pada keyakinan orang-orang, bukan saja penduduk sekitar Merapi, tapi juga Indonesia umumnya. Bahkan mungkin dunia. Mungkin semua produk akan menginginkan beliau menjadi bintang iklannya. Wawancara TV sampai sebulan ke depan akan mengangkat nama Mbah Maridjan melebihi semua skandal artis yang pernah ada.

Bagaimana tidak, ketika orang-orang disekitarnya menemui ajal akibat wedus gembel yang suhunya lebih dari 100 derajat ternyata orang ini bisa bertahan. Tidak terbayangkan kedepannya.

Yapps, mungkin kematian Mbah Maridjan adalah cara Allah untuk menjaga aqidah umat ini. Satu hal yang penting adalah kita tidak punya hak untuk menghakimi.

JadiKangenSamaMasIbot

Jumat, 22 Oktober 2010

Pengamen

Jarang banget ngeliat pengamen di angkot dikasih uang nyaris oleh semua penumpang. Apa mungkin karena hujan bisa meluluhkan ketamakan hati manusia? Ah, kenapa tidak berfikir bahwa penumpang angkot ini memang orang-orang dermawan.

Pastinya itu memang rizkimu dik.


======================================================================
Hari ini, setelah berbasah-basah ria dengan hujan. Ehmmm, mandi hujan memang menyenangkan

Jumat, 15 Oktober 2010

Menjadi Beda

Menjadi beda..

Seharusnya kembali ke poin ini. Melepaskan semua baju yang lama dan tak perlu nostalgia.
Menggantinya dengan yang baru, yang baru.

Manusia harus berubah, karena pemikirannya atau waktu yang kan memaksanya. Dan Saya ingin yang pertama.

Bismillah!

Minggu, 10 Oktober 2010

Dua hal

Cinta dan kekaguman adalah dua sahabat baik. Sepintas terlihat seperti kakak-adik, dimana kekaguman adalah sang kakak yang selalu berjalan di depan dan menjadi penunjuk jalan untuk cinta ke sebuah ruang penuh warna, bernama hati. Menurutku hanya kekaguman lah yang bisa membukakan pintu kecil di hati manusia agar cinta bisa masuk.


Bagiku hanya ada dua jenis kekaguman. Kekaguman pada fisik akan melahirkan cinta pada pandangan pertama, love at the first sight. Aku pernah mengalami ini. Satu lagi adalah kekaguman pada sifat yang akan menunjukkan cinta sebuah jalan berliku. Aku pun pernah mengalami ini.


Aku tak bisa menilai mana yang lebih baik, tapi keduanya sama-sama menghadirkan keindahan. Memberikan warna lain yang entah kenapa selalu berujung pada kebahagian.

8 Oktober 2010

Bismillahirrahmanirrahim. Basmallah pun terlantun dari mulut imam Jum’at hari ini, Pak Anwar. Aku pun segera mencoba untuk fokus mendengarkan bacaan imam, tapi tiba-tiba…bruukk. Kaki kiriku terpaksa bergeser karena ada dorongan dari orang di saf belakang. Siswa SMP 3, kelas 7. Beberapa orang di belakangku memang masih sibuk bercanda sejak khutbah tadi.


Ya, begitulah kondisi Sholat Jum’at di sini. Terkadang sangat riuh. Ketika pertama kali kembali ke sekolah ini, suasana Sholat Jum’atnya jauh lebih tidak terkendali karena anak-anak yang hampir 90% bercanda/ngobrol dan juga lantaran pengeras suaranya sudah tidak layak. Suara khotib kadang hanya sayup-sayup saja terdengar. Ketika pengeras suaranya di ganti, suasananya sedikit berubah. Sebenarnya, adik-adikku ini tetap banyak yang bercanda, tapi karena pengeras suaranya berfungsi dengan baik jadi suara mereka seperti hilang. Yaah, terkadang perlu di nasehati dulu sih sama Pak Anwar agar kondisinya lebih kondusif lagi.


Kalau kubandingkan dengan masa ku sekolah di sini dulu, sepertinya tidak sampai separah ini kondisi sholat Jum’atnya. Kalau analisa Caku, karena SMP 3 kehilangan sosok-sosok yang keras untuk urusan sholat, macam Pak Nata dan Alm. Pak Endang Kamal Haris. Beliau berdua sangat tegas untuk urusan sholat. Pak Nata biasanya akan keliling dulu, mencari anak-anak yang masih berkeliaran beberapa saat sebelum sholat Jum’at dan akan langsung digiring ke masjid. Pastinya diiringi dengan kemarahan walaupun kadang hanya lewat pandangan mata beliau. Beliau juga akan sangat marah kalau ada yang bercanda ketika sholat Jum’at. Alm. Pak Endang pun hampir sama, bahkan kalau pas sholat terdengar suara uang jatuh pun akan di marahi setelah sholat selesai. Sesuatu yang menurutku sangat aneh ketika itu.


Yaa, aku setuju sama pendapat Caku. Orang-orang seperti beliau berdua memainkan peran yang signifikan untuk hal ini. Semoga Allah membalas amal baik mereka. Sesungguhnya kemarahan mereka berdua sangat beralasan. Amiin.

Selasa, 05 Oktober 2010

Minimal 5 post...

Bismillah..

Duuh, makin ga terawat blognya (tulisannya). Sebenernya selama ini banyak banget ide2 nulis dari kejadian sehari-hari, atau pemikiran tentang masalah. Tapi sayang ga tersalurkan. Jadinya jarang nulis-nulis. Padahal masalah pun menumpuk, kejadian-kejadian unik berlalu terus. Ga sempet di tulis walaupun garis besarnya. Sepertinya butuh hp baru yang bisa buat nulis note, seperti yang dulu.

Atau harus di ikrarkan?? Harus ada 5 tulisan dalam sebulan. Apapun jenisnya.

Semoga bisa!!!!

Sabtu, 25 September 2010

Kunci papan

Untuk kali keempat keyboard si hitam rusak. Duuuwh barang2 China kualitasnya parah bener dah. Sekarang yang rusak cuma 1 tombol, tapi sangat vital, tombol enter. Dulu juga pernah dua tombol aja yang rusak. Tombol shift kiri ma kanan. Waktu itu ngetik beberapa halaman sampe makan waktu 2-3 jam karena bahan yang di ketik tentang undang-undang jadi banyak simbol (:) dan (").

Kapan ya bisa ganti si hitam....??? Cape kan ganti keyboardnya terus :D

Rabu, 15 September 2010

Bangunan Mental….

15 Agustus 2010


“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
Penggalan ayat yang langsung terngiang, begitu sampai di sini, tempat urut patah tulang. Tentunya akan langsung pula terhubung dengan kejadian 6 tahun lalu. Aku ke sini mengantar sepupu yang mengalami patah tulang paha karena terjatuh dari motor kurang lebih sebulan yang lalu. Kejadian yang semakin menyiutkan nyali untuk bawa motor sendiri. Apalagi, sebulan sebelum sepupuku yang ini kecelakaan, sepupuku yang lain pun mengalami kecelakaan. Luka luarnya sangat kecil, tapi bagian dalam kepalanya bermasalah. Beberapa hari sebelumnya aku pun nyaris nyerempet kijang. Kalau di tambah dua kecelakaan beruntun yang menimpa sepupuku, habis sudah keberanian ini. Duuuuwwwwwwh.


Tempat ini hanya membuatku kagum pada kebenaran ayat-ayat Allah dan tentunya pada orang-orang ini. Ada yang patah di betis, lengan samapi paha. Bahkan harus dipapah untuk datang ke sini, seperti sepupuku ini. Betapa orang-orang ini bermental baja, jauh melebihi diriku 6 tahun yang lalu. Lama kelamaan sih, serem juga di tempat ini karena dengar orang kesakitan dan tentunya darah lantaran ada yang baru saja kecelakaan langsung dibawa ke tempat ini.


Terima kasih ya Allah, atas nikmat sehat ini.