Laman

Sabtu, 25 September 2010

Kunci papan

Untuk kali keempat keyboard si hitam rusak. Duuuwh barang2 China kualitasnya parah bener dah. Sekarang yang rusak cuma 1 tombol, tapi sangat vital, tombol enter. Dulu juga pernah dua tombol aja yang rusak. Tombol shift kiri ma kanan. Waktu itu ngetik beberapa halaman sampe makan waktu 2-3 jam karena bahan yang di ketik tentang undang-undang jadi banyak simbol (:) dan (").

Kapan ya bisa ganti si hitam....??? Cape kan ganti keyboardnya terus :D

Rabu, 15 September 2010

Bangunan Mental….

15 Agustus 2010


“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
Penggalan ayat yang langsung terngiang, begitu sampai di sini, tempat urut patah tulang. Tentunya akan langsung pula terhubung dengan kejadian 6 tahun lalu. Aku ke sini mengantar sepupu yang mengalami patah tulang paha karena terjatuh dari motor kurang lebih sebulan yang lalu. Kejadian yang semakin menyiutkan nyali untuk bawa motor sendiri. Apalagi, sebulan sebelum sepupuku yang ini kecelakaan, sepupuku yang lain pun mengalami kecelakaan. Luka luarnya sangat kecil, tapi bagian dalam kepalanya bermasalah. Beberapa hari sebelumnya aku pun nyaris nyerempet kijang. Kalau di tambah dua kecelakaan beruntun yang menimpa sepupuku, habis sudah keberanian ini. Duuuuwwwwwwh.


Tempat ini hanya membuatku kagum pada kebenaran ayat-ayat Allah dan tentunya pada orang-orang ini. Ada yang patah di betis, lengan samapi paha. Bahkan harus dipapah untuk datang ke sini, seperti sepupuku ini. Betapa orang-orang ini bermental baja, jauh melebihi diriku 6 tahun yang lalu. Lama kelamaan sih, serem juga di tempat ini karena dengar orang kesakitan dan tentunya darah lantaran ada yang baru saja kecelakaan langsung dibawa ke tempat ini.


Terima kasih ya Allah, atas nikmat sehat ini.

Kamis, 12 Agustus 2010

Saat Batu Nisan ku Miring

Kukecup dalam-dalam butiran waktu yang berselang, Sembari menanti jarak antar pagi yang terus berjalan. Termaknai sudah oleh langkah kaki yang tak henti melintasi jemari hari.
Barangkali itulah tanda-tanda saat akan mati.... lirih...tapi pasti.


Gerah kurasakan bibir penuh duri ini walau telah kupatahkan dengan baja tak bertali.
Mungkin esok atau lusa aku tak lagi berkawan tentunya bukan karena terlalu menawan.
Sudah semestinya tanah itu menjadi penginapan terakhir kala hujan tak lagi menunggu payung, kala terik tak lagi menunggu pohon nan rindang.
Kepayahan ini terjawab sudah oleh titik amal yang melegenda dan terukir di koridor jagad raya.


Tapi ada satu hal yang kuharap tak kau lupakan, kumohon duhai kawan...karena bahkan aku tak sanggup berdiri lagi, sekedar menegakan nisan miringku sendiri atau beberapa helai rumput yang mengusik diatas pusaraku. Kalau kau kira pernah ada kebaikanku padamu walau itu tak bernilai, sudilah sejenak engkau berbelas kasih menegakkannya lagi untukku untuk makhluk yang tak luput dari kerak dosa yang semoga itu menjadi simbol bahwa aku masih sanggup berdiri gagah mempertanggungjawab kan perbuatanku. Biar lelah ini sedikit terwarnai, biar sunyi ini kian terjaga oleh hari, karena aku terlalu gontai untuk bertahan, atau setidaknya lumut dosaku tak juga berjejal di pembaringan terakhirku.


Aku bukan siapa-siapa untuk kemewahan dan kekuasaan, apa lagi ketenaran.
Aku takut tak ada Ridho untuku oleh karenannya kupilih air mata walau kutahu takan cukup sebab aku terlampau sesak oleh dosa-dosa... .........

Setyo Budi

Selasa, 27 Juli 2010

Salah

Al-Huda, mendekati jam 11 siang.

Setelah tertidur sebentar di salah satu masjid favorit, Saya putuskan untuk Sholat dhuha 2 rakaat dan sholat istikhoroh 2 rakaat. Padahal sebelumnya saya sudah mengambil keputusan...sesuatu yang aneh. Seharusnya istikhorohnya setengah jam sebelumnya, ketika kebingungan untuk memilih itu datang.

Dan, keputusan siang itu mungkin salah satu yang terberat dalam hidup ini. Memilih 1 di antara 2 pilihan. Hidup memang untuk memilih.

Rabu, 30 Juni 2010

sama

Jadi inget sama tukang sampah di Balio dulu. Nyaris nagih uang bulanan tiap pekan.

Mungkin karena kesulitan ekonomi yang menderanya. Nah kalo para petinggi negeri yang terus meminta, memanfaatkan jabatannya, malak sana-sini.

Atas alasan apa ya? Rumahnya bisa di jadiin kontrakan. Kendaraannya bisa direntalin. Uangnya duuuh ga keitung. Hmmm, masih ngerasa kurang?? :(

Minggu, 16 Mei 2010

Love Series

satu*
Ketika rumah baru itu hancur dan perlahan rata dengan tanah. Yakin lah, ia akan kembali ke rumah yang lama, rumah pertamanya. Tempat yang sangat berkesan. Tempat di mana ia mengenal ruang-ruang baru dalam hidupnya, penuh warna dan menarik hati. Gemetar ketika memasuki pekarangannya , kikuk dan gamang untuk membuka pintunya. Lalu tak sepatah katapun terdengar dari mulutnya saat berada di tengah ruang utama rumah itu. Walaupun otaknya penuh dengan sejuta kalimat, tapi yang ada adalah kekaguman. Baris-baris kalimat yang tersusun rapi sejak tikungan terakhir, kini hilang di sapu dinding putih, luas dan melenakan. Kenangan indahnya akan tetap bertahan, sedangkan cerita pahitnya lambat laun akan menjadi manis seiring waktu yang bergulir.


dua**
Kini bintang itu timbul lagi.
Tidak lagi di timur laut seperti yang dulu.
Bintang baru itu jauh lebih dekat.
Tak sengaja kutemukan dia dari balik duri-duri mawar yang masih menyisakan darah.
Lihatlah dia tersenyum.
Apakah aku rela melihat senyumnya walaupun harus tertusuk duri-duri mawar ini?
Aku tak tahu.


tiga**
Apakah dia perlu pandangan mata yang sempurna? Atau seperti tidak beretika, datang tanpa undangan? Lalu, bagaimana juga dia bisa mengisi celah yang begitu sempit? Teori kapilaritas? Fisika tidak berlaku di sini!

Ahaa…, Okey, okey, tambahan lagi, apa gunanya pengalaman? Hanya jadi arsip usang di kepala? Evaluasinya membuat air mata tumpah ruah di malam hari, tapi akhirnya tidak ada satu aksi pun yang dilakukan karenanya?! Sudahlah…, tidak perlu nostalgia….,
Jika dari titik ini dia berasal, maka aku berharap akhir yang sempurna. Amiin,….,

Senin, 26 April 2010

beberapa kenangan





At-Taqwa SMP 3 Depok

Senin, 19 April 2010

20 Maret

Sabtu, 20 Maret 2010.

Kereta ekonomi AC, dalam perjalanan menuju stasiun Juanda selepas Try Out kelas 9 (semoga mereka bisa melalui UAN dengan baik, mendapatkan hasil yang baik dan diterima di SMA yang mendukung kelanjutan tarbiyahnya), tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur dari salah seorang di rombongan ini. “Apa alasan kita ikut munashoroh Palestina”, kira-kira seperti itu pertanyaannya. Dengan sedikit perumpamaan, “(sambil tersenyum) akhi, kalau ada seorang mahasiswa yang dapet nilai jelek? Lalu nilai itu di tempel di papan pengumuman dan ternyata hanya dia seorang yang nilainya jelek. Temen-temen lain bersorak gembira karena dapet nilai yang baik. Tentunya akan sangat terpukul mendapati kondisi seperti itu. Keadaan yang sulit, sangat sulit lantaran menjadi satu-satunya orang yang tertunduk lesu di tengah kegembiraan yang lainnya. Tapi, ternyata ada seorang kawan yang menghampiri dia dengan tersenyum, mencoba untuk menghibur dan berempati pada kesulitannya. Bahkan bukan cuma menghibur dan berempati, tapi juga menyemangati untuk bangkit dari kesulitan tersebut. Akhi, mahasiswa itu adalah Palestina dan kita sedang mencoba untuk menjadi seorang kawan yang memiliki empati seperti cerita itu”.


Lelah kaki karena perjalanan ini adalah senyum dan langkah kita untuk menghampiri mahasiswa itu. Materi yang kita sumbangkan adalah satu tepukan di bahunya dan juga sapaan kecil untuk mencari tahu apa yang terjadi, “ada apa….”, “kenapa…..”. Jikalau fisik ini yang mampu kita hadirkan/tawarkan maka itu adalah kata-kata penyemangat dan juga ajakan untuk kembali berdiri dan menghadapi ini semua bersama-sama.


Satu alasan lainnya adalah karena di sana ada salah satu situs suci umat Islam, Masjid Al-Aqsho. Sholat di dalamnya di ganjar dengan pahala yang jauh lebih banyak daripada di masjid-masjid lain (kecuali Masjidil haram dan Masjid nabawi). Saya yakin, tidak akan ada satu pun pemeluk agama di dunia ini yang tidak marah ketika situs sucinya hendak dihancurkan!
Al-Aqsho ini jantung Palestina,
Kiblat pertama jua nan mulia

Note:
Ini mungkin salah satu akhir pekan yang melelahkan. Karena setelah munashoroh ada z. suyukh yang dilanjut mabit kemudian futsal di pagi hari. Yang mesen lapangan 2 jam tega neh..hiks..

Kamis, 18 Maret 2010

Setelah membaca..............

bolehkah saya menerka...
walau hanya dari kata-kata......

Saya tau,
takdir tidak untuk diterka...
karena, bisa jadi kita tidak akan beranjak dari tempat semula,
hanya sibuk berandai-andai.

Tapi....
1 guratan tinta yang terbaca,
sepertinya.....

ah, sudah lah....

Minggu, 14 Maret 2010

hujan. what do you think about it? ngebayangin apa? ada kisah?

judul yang saya pake adalah pertanyaan di sebuah thread.

Ini jawabannya...


Hujan selalu menyenangkan buat ane sis.

karena pengalaman waktu kecil yang sontak saja hadir ketika hujan datang. Mandi ujan, maen perahu2an, sampe ngepel beranda rumah sambil merosot di lantainya. Ingin rasanya melakukan itu lagi.

Bukan cuma itu, buat ane hujan juga membuat nyaman suasana. entah karena tanah yang sebelumnya keras berubah menjadi lembut, karena debu yang tersikat habis ataupun karena suasana dingin yang langsung mengalir seiring lamanya hujan...


AKU Cinta Hujan...

Kamis, 04 Maret 2010

Return

Sepuluh tahun. Wooow, sudah sepuluh tahun ngga ke sini. Banyak yang berubah? Jelas banyak yang berubah. Salah satunya tempat yang ku tuju sekarang ini. Terlihat jauh lebih besar, walaupun belum rampung 100%. Mesjid At-Taqwa SMP N 3 Depok, sekolahku dulu.

Terakhir kali ke sini, 17 Agustus 1999. Lebih kurang 1 bulan setelah aku masuk SMA 1 Depok dan kalau tidak salah ingat, hari itu adalah pertama kalinya pakai seragam SMA, putih abu-abu. Umumnya kalau sekolah negeri uang masuk sudah sekalian dengan seragam sekolah dan pemberian seragam tersebut harus menunggu beberapa waktu, mungkin karena banyaknya pesanan yang harus dibuat. Ada semacam tradisi di SMP ini, biasanya alumni yang baru saja lulus akan sowan ke sekolah pas 17 Agustusan dan ketika itu, kami (aku dan beberapa kawan) pun datang untuk menggenapi tren itu.

Sebetulnya sangat banyak anak SMA 1 yang berasal dari SMP 3, tapi yang datang ketika itu hanya beberapa saja karena di SMA 1 sedang ada acara. Hmm, selepas upacara 17 Agustus ada seminar tentang narkoba. Salah satu pembicara yang tampil adalah mantan pemakai, cukup menarik. Namun sayang, kupikir akan ada yang lebih menarik di SMP 3, yang jelas-jelas tidak ada di SMA 1. Hmmmm apa ya, hehehe.

Ketika itu berpikir keras, bagaimana caranya ke SMP 3. Adanya seminar membuat siswa-siswa tidak bisa segera pulang. Keluar sih bisa, tapi tanpa membawa tas. Duuuuh, nyesel bawa tas. Akhirnya tercetus ide, manjat tembok di belakang kantin. Lupa siapa yang punya ide, pastinya ketika itu bareng sama Budi dan seorang alumni SMP 2, temen sekelasku. Oia ada beberapa cewe yang nitip tas ke kita, hmmm.

Pengorbanan yang besar, bayangkan baru 1 bulan di SMA harus cabut dengan cara manjat tembok.a Apalagi bibirku pecah lantaran salah memperkirakan tinggi tembok. Errgggghh, lumayan sakit dan darahnya cukup banyak, tapi tak apalah. Demi sebuah kebahagiaan yang tak ada di SMA ini dan itu membuatku tak terlalu menikmati masa-masa awal sekolah di SMA 1 Depok, sekolah paling favorit di kota ini.

Seberapa hebat kenangan di SMP ini? Kalau sepuluh tahun lalu mungkin cukup jelas dengan cerita di atas. Bahkan 5 tahun lalu pun masih merasa masa SMP adalah yang paling menyenangkan, lebih tepatnya, paling indah. Kini? Dengan semua yang sudah kualami, dengan melihat dari berbagai sisi (duwwh apa sih) maka urutannya sudah jauh berubah, seperti juga kondisi SMP ini yang berubah. Sekarang (sebetulnya sejak 4 tahun lalu) aku lebih memilih masa SMA adalah yang paling menyenangkan. Entah itu karena kegilaan-kegilaannya, temen-temen yang super duper lucunya, kebiasaan bola plastiknya, dan tentunya yang paling menentukan untukku, rohis dan mentoringnya. Aku jadi inget sebuah nasehat “kita jelas menginginkan mereka menjadi lebih baik, tapi kalau itu tidak tercapai sekarang, biarlah mentoring ini menjadi serpihan terbaik dalam hidup mereka”. Dan itulah serpihan terbaikku.

Masa SMP jutru aku letakkan terakhir, setelah masa kuliah dan SD. Dari pertama jadi terakhir? Yaps!!!!!!!!!!!! Okey, ada sebuah momen yang sangat manis, tapi ternyata aku juga punya 2 momen yang sangat buruk. Sangat, sangat buruk!! Kalau momen manis itu terus mengikuti sampai masa-masa selanjutnya (bahkan menjadi inisiasi), maka momen buruk itu juga belum lah pudar pada masa-masa setelah SMP. Dan 2 selalu lebih banyak dari 1, di manapun!!!

Ketika kembali ke sini (SMP 3), aku tidak ingin mengenang cerita manis itu dan juga bukan untuk mengubur cerita buruk itu. Aku Cuma ingin berbagi pada adik-adik kelas ku. Duwwwh riwehnya anak-anak kelas 7. Hohohoho, seru banget.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."