Senin, 26 April 2010
Senin, 19 April 2010
20 Maret
Kereta ekonomi AC, dalam perjalanan menuju stasiun Juanda selepas Try Out kelas 9 (semoga mereka bisa melalui UAN dengan baik, mendapatkan hasil yang baik dan diterima di SMA yang mendukung kelanjutan tarbiyahnya), tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur dari salah seorang di rombongan ini. “Apa alasan kita ikut munashoroh Palestina”, kira-kira seperti itu pertanyaannya. Dengan sedikit perumpamaan, “(sambil tersenyum) akhi, kalau ada seorang mahasiswa yang dapet nilai jelek? Lalu nilai itu di tempel di papan pengumuman dan ternyata hanya dia seorang yang nilainya jelek. Temen-temen lain bersorak gembira karena dapet nilai yang baik. Tentunya akan sangat terpukul mendapati kondisi seperti itu. Keadaan yang sulit, sangat sulit lantaran menjadi satu-satunya orang yang tertunduk lesu di tengah kegembiraan yang lainnya. Tapi, ternyata ada seorang kawan yang menghampiri dia dengan tersenyum, mencoba untuk menghibur dan berempati pada kesulitannya. Bahkan bukan cuma menghibur dan berempati, tapi juga menyemangati untuk bangkit dari kesulitan tersebut. Akhi, mahasiswa itu adalah Palestina dan kita sedang mencoba untuk menjadi seorang kawan yang memiliki empati seperti cerita itu”.
Lelah kaki karena perjalanan ini adalah senyum dan langkah kita untuk menghampiri mahasiswa itu. Materi yang kita sumbangkan adalah satu tepukan di bahunya dan juga sapaan kecil untuk mencari tahu apa yang terjadi, “ada apa….”, “kenapa…..”. Jikalau fisik ini yang mampu kita hadirkan/tawarkan maka itu adalah kata-kata penyemangat dan juga ajakan untuk kembali berdiri dan menghadapi ini semua bersama-sama.
Satu alasan lainnya adalah karena di sana ada salah satu situs suci umat Islam, Masjid Al-Aqsho. Sholat di dalamnya di ganjar dengan pahala yang jauh lebih banyak daripada di masjid-masjid lain (kecuali Masjidil haram dan Masjid nabawi). Saya yakin, tidak akan ada satu pun pemeluk agama di dunia ini yang tidak marah ketika situs sucinya hendak dihancurkan!
Al-Aqsho ini jantung Palestina,
Kiblat pertama jua nan mulia
Note:
Ini mungkin salah satu akhir pekan yang melelahkan. Karena setelah munashoroh ada z. suyukh yang dilanjut mabit kemudian futsal di pagi hari. Yang mesen lapangan 2 jam tega neh..hiks..
Kamis, 18 Maret 2010
Setelah membaca..............
bolehkah saya menerka...
walau hanya dari kata-kata......
Saya tau,
takdir tidak untuk diterka...
karena, bisa jadi kita tidak akan beranjak dari tempat semula,
hanya sibuk berandai-andai.
Tapi....
1 guratan tinta yang terbaca,
sepertinya.....
ah, sudah lah....
Minggu, 14 Maret 2010
hujan. what do you think about it? ngebayangin apa? ada kisah?
judul yang saya pake adalah pertanyaan di sebuah thread.
Ini jawabannya...
Hujan selalu menyenangkan buat ane sis.
karena pengalaman waktu kecil yang sontak saja hadir ketika hujan datang. Mandi ujan, maen perahu2an, sampe ngepel beranda rumah sambil merosot di lantainya. Ingin rasanya melakukan itu lagi.
Bukan cuma itu, buat ane hujan juga membuat nyaman suasana. entah karena tanah yang sebelumnya keras berubah menjadi lembut, karena debu yang tersikat habis ataupun karena suasana dingin yang langsung mengalir seiring lamanya hujan...
AKU Cinta Hujan...
Kamis, 04 Maret 2010
Return
Sepuluh tahun. Wooow, sudah sepuluh tahun ngga ke sini. Banyak yang berubah? Jelas banyak yang berubah. Salah satunya tempat yang ku tuju sekarang ini. Terlihat jauh lebih besar, walaupun belum rampung 100%. Mesjid At-Taqwa SMP N 3 Depok, sekolahku dulu.
Terakhir kali ke sini, 17 Agustus 1999. Lebih kurang 1 bulan setelah aku masuk SMA 1 Depok dan kalau tidak salah ingat, hari itu adalah pertama kalinya pakai seragam SMA, putih abu-abu. Umumnya kalau sekolah negeri uang masuk sudah sekalian dengan seragam sekolah dan pemberian seragam tersebut harus menunggu beberapa waktu, mungkin karena banyaknya pesanan yang harus dibuat. Ada semacam tradisi di SMP ini, biasanya alumni yang baru saja lulus akan sowan ke sekolah pas 17 Agustusan dan ketika itu, kami (aku dan beberapa kawan) pun datang untuk menggenapi tren itu.
Sebetulnya sangat banyak anak SMA 1 yang berasal dari SMP 3, tapi yang datang ketika itu hanya beberapa saja karena di SMA 1 sedang ada acara. Hmm, selepas upacara 17 Agustus ada seminar tentang narkoba. Salah satu pembicara yang tampil adalah mantan pemakai, cukup menarik. Namun sayang, kupikir akan ada yang lebih menarik di SMP 3, yang jelas-jelas tidak ada di SMA 1. Hmmmm apa ya, hehehe.
Ketika itu berpikir keras, bagaimana caranya ke SMP 3. Adanya seminar membuat siswa-siswa tidak bisa segera pulang. Keluar sih bisa, tapi tanpa membawa tas. Duuuuh, nyesel bawa tas. Akhirnya tercetus ide, manjat tembok di belakang kantin. Lupa siapa yang punya ide, pastinya ketika itu bareng sama Budi dan seorang alumni SMP 2, temen sekelasku. Oia ada beberapa cewe yang nitip tas ke kita, hmmm.
Pengorbanan yang besar, bayangkan baru 1 bulan di SMA harus cabut dengan cara manjat tembok.a Apalagi bibirku pecah lantaran salah memperkirakan tinggi tembok. Errgggghh, lumayan sakit dan darahnya cukup banyak, tapi tak apalah. Demi sebuah kebahagiaan yang tak ada di SMA ini dan itu membuatku tak terlalu menikmati masa-masa awal sekolah di SMA 1 Depok, sekolah paling favorit di kota ini.
Seberapa hebat kenangan di SMP ini? Kalau sepuluh tahun lalu mungkin cukup jelas dengan cerita di atas. Bahkan 5 tahun lalu pun masih merasa masa SMP adalah yang paling menyenangkan, lebih tepatnya, paling indah. Kini? Dengan semua yang sudah kualami, dengan melihat dari berbagai sisi (duwwh apa sih) maka urutannya sudah jauh berubah, seperti juga kondisi SMP ini yang berubah. Sekarang (sebetulnya sejak 4 tahun lalu) aku lebih memilih masa SMA adalah yang paling menyenangkan. Entah itu karena kegilaan-kegilaannya, temen-temen yang super duper lucunya, kebiasaan bola plastiknya, dan tentunya yang paling menentukan untukku, rohis dan mentoringnya. Aku jadi inget sebuah nasehat “kita jelas menginginkan mereka menjadi lebih baik, tapi kalau itu tidak tercapai sekarang, biarlah mentoring ini menjadi serpihan terbaik dalam hidup mereka”. Dan itulah serpihan terbaikku.
Masa SMP jutru aku letakkan terakhir, setelah masa kuliah dan SD. Dari pertama jadi terakhir? Yaps!!!!!!!!!!!! Okey, ada sebuah momen yang sangat manis, tapi ternyata aku juga punya 2 momen yang sangat buruk. Sangat, sangat buruk!! Kalau momen manis itu terus mengikuti sampai masa-masa selanjutnya (bahkan menjadi inisiasi), maka momen buruk itu juga belum lah pudar pada masa-masa setelah SMP. Dan 2 selalu lebih banyak dari 1, di manapun!!!
Ketika kembali ke sini (SMP 3), aku tidak ingin mengenang cerita manis itu dan juga bukan untuk mengubur cerita buruk itu. Aku Cuma ingin berbagi pada adik-adik kelas ku. Duwwwh riwehnya anak-anak kelas 7. Hohohoho, seru banget.
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."
Rabu, 03 Maret 2010
Buka Mata Hati Telinga
Satu cerita tentang manusia
Coba tuk memahami arti cinta
Benarkah kah cinta di atas segalanya
Hanyakah itu satu-satunya
Yang menjadi alasan untuk menutup mata
Tak melihat dunia yang sesungguhnya
Dan menjadi jawaban atas semua tanya
Yang kita harap mampu mewujudkan semua akhir bahagia
Buka mata, hati, telinga, sesungguhnya, masih ada yang lebih penting
Dari sekedar kata cinta
Yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan
Mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata, hati, telinga
Adakah kau rasakan kadang hati dan pikiran
tak selalu sejalan, seperti yang kau harapkan
Tuhan tolong tunjukan apa yang kan datang
Hikmah dari semua misteri yang tak pernah terpecahkan.
Maliq & d'essentials
Sedang menikmati saat-saat di mana rindu tidak bernyanyi. Menyenangkan, sangat menyenangkan :D
Untuk Cermin Diri
Kenapa manusia yang jatuh pada kesalahan yang sama disamakan dengan hewan? Dalam hal ini, seperti keledai. Tentunya manusia dan hewan berbeda dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perbedaan mendasar itu adalah pada otaknya. Hewan di karuniakan insting, sedangkan manusia di anugerahi akal. Karena akal itulah manusia memiliki derajat yang lebih tinggi di banding hewan. Lantas, kenapa untuk kasus di atas manusia di samakan dengan hewan?
Saya masih ingat beberapa cerita tentang bagaimana insting hewan bekerja. Salah satunya ketika kuliah psikologi sosial. Cerita tentang seekor anjing yang sebelum diberi makan selalu diberi tanda dengan bunyi lonceng. Awalnya sang anjing acuh terhadap lonceng dan baru tergerak ketika makanannya terlihat. Makin lama, dia paham bahwa ketika lonceng dibunyikan maka makanan akan datang sehingga dia segera menghampirinya. Instingnya lah yang mengatakan “ini sebuah kebiasaan”. Dia akan tetap datang ketika lonceng dibunyikan walaupun ternyata makanannya tidak ada, paling tidak untuk beberapa kesempatan.
Pun dengan cerita seekor belalang yang mampu melompat setinggi 10 cm di alam bebas. kemudian ia di masukkan dalam kotak kecil yang tingginya tidak lebih dari itu. Ketika dilepaskan kembali ke alam bebas, setelah beberapa lama di kurung, tinggi lompatannya tidak kembali seperti sedia kala. Karena keterbatasan tinggi yang disediakan kotak kecil membuat belalang merubah kebiasaannya.
Dua makhluk itu telah terkekang dalam blok pemikiran yang begitu terbatas. Blok pemikiran itu adalah lonceng dan kotak kecil. Mungkin tidak pas untuk menggambarkan cara kerja insting hewan, tapi setidaknya itu adalah gambaran bagaimana hewan, yang dianugerahi insting oleh Allah, bekerja untuk mempertahankan hidup.
Apakah akal, yang ada pada manusia, bekerja seperti itu? Tentunya tidak. Karena panah sudah berubah menjadi senapan, kuda pun sudah berubah menjadi kendaraan bermesin, begitu juga cahaya obor sudah berubah menjadi aliran listrik. Bahkan keinginan untuk terbang bebas seperti burung pun sudah diterjemahkan oleh pesawat terbang. Jelasnya, akal mampu melihat keadaan dan mengeksploitasinya.
Cerita tentang akal adalah cerita tentang belajar, lalu berkembang. Belajar bisa dilakukan dari nol atau dengan kata lain kita tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Belajar pun bisa dilakukan berdasarkan pengalaman sebelumnya, baik itu kegagalan maupun kesuksesan, dan dari sinilah perkembangan itu dimulai.
Akal bukan cuma memikirkan kebiasaan dengan semua kemudahan/kesulitannya yang membuat kita melakukan hal yang sama. Namun, akal harusnya juga mampu memikirkan tentang jalan di luar kebiasaan tersebut beserta semua resikonya. Sehingga ketika kegagalan yang kita temui pada kesempatan pertama, maka kita punya pilihan lain pada kesempatan berikutnya. Jikalau pada kesempatan pertama kesuksesan yang kita jumpai, maka kesuksesan itu bisa menjadi titik awal kesuksesan selanjutnya. Itulah berkembang. Modernitas pun muncul karena manusia tidak takluk pada kebiasaan lama dan ingin berkembang. Ilmuwan-ilmuwan hebat, yang dicatat dengan tinta emas oleh sejarah, pun hadir karena mengambil kemungkinan-kemungkinan lain di luar kebiasaan dan tentunya disertai dengan hasrat untuk berkembang.
Kembali kepada pertanyaan di atas, kenapa manusia yang jatuh pada kesalahan yang sama disamakan dengan hewan? Mungkin sudah terjawab dengan uraian di atas, bahwa kita dianugerahi akal yang dengan itu kita bisa belajar, lalu berkembang. Jatuh pada kesalahan yang sama juga mengindikasikan kita tidak belajar dan tidak mengerti/tidak tahu atau mungkin lupa bahwa hidup adalah seni memilih dan pilihan dalam hidup itu banyak sekali. Hanya sesekali saja kita dihadapkan pada dua pilihan.
Minggu 28 februari 2010. 9.42 am
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Ini sebenarnya sebuah jawaban. Pertanyaannya lewat sms dan si penanya mungkin akan bingung dengan jawaban ini. Yaaah, ga nyambung juga sih dengan yang ditanyakan.
Tapi demi Allah, saya hanya butuh waktu. Itu saja. Maaf kalau sulit dipahami
Sabtu, 27 Februari 2010
Salah Kaprah
Sore kemarin, suara gaduh, tanpa diundang, tiba-tiba aja masuk kamar. Segera terbangun dan sedikit melirik lewat jendela. Wooow, anak tetangga sebelah lagi ngamuk. Seperti yang sudah-sudah, memang tabiatnya luar biasa kacau kalau lagi nangis. Dia terbiasa bergulingan (bahasanya apa sih?) di tengah jalan, kakak saya malah lebih ekstrim dengan bilang dia “gila”. Anak perempuan kelas 1 SD yang terlalu di manja, lagaknya seperti raja. Saya sendiri sudah muak dengannya dan juga kakaknya, yang kelas 6 SD. Dua anak itu ga pernah bertegur sapa lagi dengan keluarga saya, sejak sebelum lebaran, bahkan tidak dateng ke rumah ketika lebaran. Salah apa kami? Dan orang tuanya menganggap itu biasa. Bahkan tetangga yang duduk di rumah saya pun seperti menjadi musuhnya. Satu ucapan anak kelas 1 SD itu yang masih saya ingat “ngapain lu liat-liat ke sini (rumahnya)?”. Kata “lu” untuk nenek-nenek yang sering bertandang ke rumah, teman-teman ibu. Jangan tanya bagaimana pendapat ibu dan teman-temannya tentang dua anak itu.
Satu waktu di ramadhan tahun lalu, ba’da tarawih, kakaknya yang sudah kelas 6 SD dan bersekolah di sekolah Islam, memanggil saya dengan kata “setan”. Ketika itu hanya do’a yang terucap “semoga satu saat di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dia bertemu dengan sebuah keajaiban (mentoring) yang bisa merubah dia”. Ya.. semoga aja ada hidayah yang nyangkut, sehingga dia sadar dengan kesalahannya dalam bersopan santun terhadap orang yang lebih tua, terhadap pembantu, dan tentunya terhadap kedua orang tuanya.
Kembali ke kegaduhan, ternyata yang kemarin sore lebih dari biasa. Karena pembantunya sampai nangis-nangis, di gigit dan di kejar-kejar sambil membawa pisau/gunting dan adiknya, yang berumur kurang dari 2 tahun, juga jadi korban pelampiasan tangisnya. Sampai balita itu terlihat shock. Makanya kegaduhan kemarin lain dari biasanya. Kegaduhan yang membuat ibu-ibu tetangga harus turun tangan mencegah itu. Luar biasa! Dari mana pikiran sejahat itu hadir dalam otak anak SD kelas 1?? Anak sekolah Islam pula.
Televisi kah? Sangat mungkin. Perhatikan saja sinetron-sinetron yang ada. Anak SD bisa berkomplot merencanakan kejahatan untuk mencelakakan temannya, balas dendam, berebut harta, berebut pacar. Dari satu sinetron ke sinetron lainnya, temanya sama dan ga akan jauh dari sana. Tapi menurut saya, andil paling besar datang dari kesibukan kedua orang tuanya yang bekerja. Apalagi sang ayah bekerja di luar negeri. Sehingga ketika bertemu yang ada adalah pelampiasan kasih sayang seluas-luasnya karena terlalu lama berpisah, bukan menjadi panutan, malah menjadi pembela tanpa kompromi. Dan sepertinya mereka berpikir dengan menyekolahkan ke Sekolah Dasar berlabel IT, masalah akhlak akan selesai. Sebuah pemikiran yang salah kaprah lantaran untuk jenjang SD, rumah jauh lebih berpengaruh ketimbang sekolah. Barulah ketika SMP, lingkungan sekolah berpengaruh padanya. Saya pun menemui anak SMP kelas 7 yang mulai berubah. Ketika awal, bahasanya sangat sopan “aku “dan “saya”. Kini, “lu” dan “gue” mulai terbiasa. Ketika SMP itulah masa remaja di mulai. Masa di mana seorang anak ingin menemukan jati dirinya bla-bla-bla-bla. Sudah lah saya bukan anak psikologi, tapi pengetahuan tentang itu sangat penting.
Kamis, 11 Februari 2010
Lagoon 500
Catatan itu muncul di layar komputer tiga hari lalu. Dari Sensen Gustafsson, teman yang bermukim di Swedia. Catatannya aktual, tentang pembelian kapal survei senilai Rp. 14 miliar oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan.
“Geli rasanya,” komentar Sensen tentang pembelian itu. Bukan karena kapal itu tidak bagus, melainkan karena pilihan jenis kapalnya, sebuah yacht Lagoon 500. Kapal jenis Katamaran ini, menurut dia, hanya akan memuaskan hasrat personal ketimbang tujuan riset dan pemantauan lingkungan. Maklum, kapal layar jenis ini lazimnya untuk para konglomerat kaya dunia dengan fasilitas layaknya hotel bintang 5.
Saya sepenuhnya sepakat dengan Sensen. Apalagi dia kredibel dalam soal ini. Sebagaimana keluarga lainnya di Swedia, dia memiliki kapal yang biasa digunakan untuk menyinggahi pulau-pulau yang amat banyak di negerinya. Suaminya, saat tahu Kementerian Kelautan dan Perikanan membeli Lagoon 500 untuk survei, pun berseru takjub. “Are you kidding?” katanya. Lagoon 500, baginya, lebih mungkin untuk bersenang-senang dibandingkan penelitian.
Dari sudut harga dan kelengkapan, kapal ini adalah gambaran kelengkapan dan kemewahan. Tidak hanya bagi kita yang sulit menghitung angka nol pada nilai 14 miliar, melainkan juga bagi para pemilik kapal layar di dunia. Amat mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa ada hal yang berlebihan, tidak proporsional, dan keterlaluan dalam masalah ini.
Citra kemewahan akan sangat terasa saat fakta yang hadir adalah sesuatu yang tak terbayangkan bakal terjangkau. Kalau kita tak mampu membeli mobil senilai Rp. 200 juta, maka kita akan menyebutnya sebagai barang mewah. Kalau kita tak mampu membeli rumah seharga Rp. 1 miliar, maka kita akan menilai rumah seharga itu sebagai kemewahan. Tapi, kalau kita punya mobil senilai Rp. 300 juta dan rumah seharga Rp. 5 milyar, maka kita takkan lagi merasakan kemewahan pada mobil dan rumah dengan nilai di bawahnya.
Kalau pemilik ide pembelian Lagoon 500 menilai kapal itu dalam jangkauan kemampuan mereka, maka ia takkan merasakan kemewahan kapal itu. Mereka akan menyebutnya sebagai kewajaran. Sayangnya, hal ini bermakna bahwa ia berjarak amat jauh dengan masyarakat pada umumnya, masyarakat yang uangnya mereka setor dalam bentuk pajak dan menjadi modal pembelian kapal itu.
Kesenjangan semacam itu berbahaya. Pemegang kebijakan tumpul nuraninya dan menggunakan standar kehidupan yang menjulang seakan-akan sebagai haknya. Takkan mengherankan, bila mereka juga akan berlaku serupa saat membeli mobil dinas, membangun pagar kantor, atau merenovasi rumah jabatan. Padahal semua modal pembelian, pembangunan, atau renovasi berasal dari rakyat yang akan menganggap semua itu sebagai kemewahan.
Di masa lalu, sekitar masa pergeseran abad ke-19 ke abad ke-20, perilaku ini muncul di kalangan priyayi, pengemban jabatan dari pemerintah kolonial, dan para bupati. Tentu bukan Lagoon 500 atau Toyota Crown Royal Saloon yang mereka pertontonkan kepada rakyat pembayar pajak atau upeti, melainkan kuda-kuda terbaik dan tergagah. Para Bupati biasa menukarkan kuda-kuda mereka yang patah kakinya dengan kuda-kuda bagus milik priyayi rendahan. Mirip seorang menteri yang mengeluhkan kendaraan dinas Toyota Camry berusia lima tahun dan begitu senang karena kendaraan penggantinya bernilai tiga kali lipat.
Ini adalah persoalan gaya hidup yang terpaut jarak amat jauh dengan kehidupan rakyat. Elite-elite birokrasi tak merasa bersalah menggunakan uang rakyat untuk kepentingan yang menurut mereka wajar belaka, padahal rakyat menganggapnya sebagai hal yang tak patut. Di era modern, mereka mungkin akan melakukan “penelitian” di atas Lagoon 500 seraya mengajak anak istri karena empat kamar di dalam kapal itu memang nyaman untuk berpesiar. Ini tak ada bedanya dengan para bupati di masa lalu yang acap mengajak kawan-kerabatnya untuk berburu harimau atau rusa, walaupun sadar betapa mahalnya pesiar semacam itu.
Kesenjangan ini pula yang sebenarnya muncul dalam persoalan penggusuran di rumah-rumah dinas militer. Mereka yang terusir lazimnya adalah keluarga kelas prajurit hingga perwira menengah, bukan perwira tinggi. Saat kebutuhan rumah untuk mereka tak terpenuhi, segelintir perwira justru berjarak dengan gaya hidup mereka yang berbeda. Boleh dibilang, semua kesatuan memiliki lapangan golf. Demikian pula, banyak kotama di daerah dan korps memiliki fasilitas semacam itu. Untuk siapa? Tentu bukan untuk tamtama atau bintara.
Kemewahan yang melampaui rasa kepatutan masyarakat adalah hal konyol. Dalam banyak kasus malah memalukan. Saya teringat cerita tentang para utusan pemerintah kita saat menegosiasikan utang dengan Jepang. Mereka datang ke tempat pertemuan menggunakan mobil mewah, sementara para pejabat negara pemberi utang justru hadir naik kereta bersama masyarkat mereka pada umumnya.
Arys Hilman
Solilokui, Republika Ahad 31 januari 2010.
================================================================
Arys Hilman, hmm sejak baca artikel berjudul kegagalan empati, saya jadi suka dengan tulisan wartawan yang satu ini. Seru, dan kalo lagi beli Republika selalu nyari-nyari tulisan dari Arys Hilman. Sayangnya sampe sekarang saya ga tau apakah tulisan beliau terbit rutin.
Lagian saya juga ga langganan Republika. Waktu di Kampus sih tinggal ke Al-Hurriyah aja, baca gratis..hehehe....
Jumat, 15 Januari 2010
Just
Hmmm, kemarin seperti karam....
mengambang tak menentu sampai tenaga habis
Perlahan tenggelam,
sembari mengepak-ngepak di atas air,
semakin tenggelam,
Hingga tersisa kepal tangan di atas permukaan air
Dan yang saya tahu,
setelah karam..
tak ada kapal yang kembali ke permukaan dengan sendirinya!!
Sholat Gerhana
Pengalaman pertama, di depan banyak orang..pasti nervous...
you've done a great job akhi..
"bacaannya aja yang kurang, panjang pendeknya" Makasih bu.
Entahlah tiba-tiba lupa.
hari ini saat jadi imam shalat gerhana di A-Taqwa



