Laman

Kamis, 11 Desember 2008

Buat Mamo...

Rabu 10 Desember 2008
Jam 8 malam lewat dikit sampai jam 10 lewat banyak.

Seperti diriku, namanya juga singkat. Sangat singkat. Triatma. Aku yakin, orang yang berkenalan dengannya pasti langsung menebak bahwa dia adalah anak ketiga dari sekian bersaudara. Seingatku, selama mengenalnya sejak di asrama dulu aku tak pernah memanggil sesuai namanya. Ya, karena dia lebih kondang dengan sebutan Mamo atau Tn. Mamo (menurut versinya).

Aku mengenalnya karena pernah satu kelompok di praktikum biologi. Sebenanya kami beda jurusan, Mamo Teknik Pertanian/TEP dan aku Teknologi Pangan/TPG, tapi karena kelompok TPG golongan r dan TEP golongan r sedikit jumlah manusianya (maklum pencilan) maka kami digabung. Aku sering main ke kamarnya. Awalnya untuk urusan Biologi, tapi lama kelamaan karena...di kamar Mamo banyak makanan, hehehe. Oia satu alasan lagi, di lorong Mamo itu ada 3 orang anak TPG r ; Eko (apa kabar teman seperjuangan yang satu ini), Arga (makin bulet dia) dan Usman (hmmmm aku kangen sama Usboy), jadinya suka maen ke lorong itu. . Aku juga pernah empat kali tinggal bareng dengannya. Pondok Keramat, Bale Selatan, Paladium, dan terakhir DPC Ciampea (yang terakhir ini karena Mamo jadi marbot DPC dan kalau aku ke Bogor ya tidur di sana)

Pria ini berkulit gelap, kurus dan tingginya sekitar 10 cm di atasku. Dia terlihat sangat semampai, tapi jangan salah, nafsu makannya sangat luarrrr biasa. Kadang kami harus mengingatkannya “Mo tinggalin yang laen, kasian” biar dia ngga ngabisin nasi. Kenapa orang kurus banyak makannya ya? Cholil juga sangat kurus, tapi aku kalah adu banyak-banyakan makan di cah Joyo waktu tingkat 1 dulu. Aku cuma sanggup 3 piring, Cholil bisa 4, wuaaah serasa lawan orang Somalia (Cholil dari Semarang). Aca juga makannya banyak, tapi sekarang dia sudah lebih gemuk siih (Aca juga orang Semarang. Aneh kan, hihihi).

Orang yang simpel, pekerja yang tangguh, humoris, mengerti tentang komputer, selalu merasa terasing, pelupa, berantakan dan kukuh mempertahankan pendapatnya walaupun salah. Dia baru akan mengakui kesalahannya kalau bukti sudah terpaparkan di depan matanya sendiri atau bukti itu didukung banyak orang. Itu pun pengakuan yang seadanya, karena dia akan berkata “ooowh begitu ya. Udah berubah toh”. Sangat menyebalkan dan biasanya debat dengan orang yang satu ini pasti disertai emosi.

Mamo juga sangat mandiri. Sejak di asrama dia sudah mencoba mencari tambahan biaya hidup dengan berjualan. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai dia lulus Oktober kemarin. Tapi sayang, dari sekian banyak catatan usahanya ga ada yang bisa membawanya menjadi mahasiswa enterpreneur yang sukses. Nyaris bertinta merah semua

Kurang lebih sebulan yang lalu di DPC Ciampea aku berdebat lagi dengannya. Tema waktu itu adalah tentang keuntungan surat kabar, apakah sudah tertutupi dari iklan atau belum. Mamo yakin, teramat sangat yakin (as always) kalau sebuah surat kabar sudah mendapatkan untung tanpa perlu di jual. Aku jelas pada posisi melawannya. Sebetulnya aku juga ngga punya pengetahuan yang cukup tentang itu jadi alasan ku selalu berdasarkan logika. Dan ini adalah titik kesalahan yang membuat debat itu (yang ditonton oleh penonton setia, Aliy cool) tidak akan berakhir. As always, aku juga udah geregetan, belum juga makan pagi udah debat kusir. Arrggggghhhhhh....

Ternyata, itu adalah debatku yang terakhir dengannya (paling tidak untuk 15 bulan ke depan). Selasa sore kemarin, lewat sms dia bilang kalau dia sekarang udah kerja di Pekanbaru. Kau tahu apa reaksi ku? Sedih dan ngga kerasa air mata keluar sedikit demi sedikit. Puncaknya ketika shalat Ashar, untuk kesekian kalinya aku shalat sambil menangis. Jujur, aku merasa kehilangan. Dan lagi-lagi perpisahan lah yang memberi pesan kehilangan itu. Perpisahan selalu dan selalu menyadarkan ku tentang arti sesuatu. Ya Rabbi, aku merasa belum menjadi teman yang baik untuknya. Setiap kali berdebat, aku selalu emosional. Belum lagi kalau lagi kesel, tingkah Mamo selalu tidak menyenangkan untukku. Aku juga sering emosional kalau mengajari Mamo suatu hal baru, “mangkanya baca dulu petunjuknya” dan puluhan kalimat bertanda seru lainnya yang menandakan kedongkolan karena dia terlalu cepat mengambil keputusan atau karena pertanyaannya sudah yang kesekian kali diajukan. Padahal Mamo sangat sabar menerangi ku tentang komputer (sesuatu yang dia pahami) dari nol besar!!! Aku ngajarinnya berinternet yang ecek-ecek aja (bagaimana ikutan milist, maen FS, dsb) kadang udah emosi. (aku mau nangis sekarang). Aku juga masih inget, waktu mau pindah kamar di Paladium, tiba-tiba dia ngeloyor pergi untuk ngurusin kolamnya. Kenapa dia pergi pas kita mau beres-beres. Belum lagi waktu di Bale Selatan, karena keluar nda nutup pager, kaus kaki yang berantakan kemana-mana, naro gunting sembarangan, bungkus mie instant yang berantakan, ngga piket dan hal-hal kecil lainnya. Pasti ku semprot dia karena hal-hal itu.

“Maafin gue ya Mo” (dan sekarang bener-bener nangis)

Selain kemarahan, Mamo juga menjadi penyumbang terbesar kelucuan-kelucuan yang terjadi di antara kami di asrama, di Pondok Keramat, di Bale Selatan, di Paladium, ataupun di DPC. Entah itu karena sifatnya yang pelupa ataupun tingkahnya, tapi pada dasarnya dia memang lucu.

Aku masih inget, waktu kami salah naek bis di UKI (tempat yang paling menyebalkan). Harusnya ke Bogor, tapi malah sampai Bekasi. Ku rasa kejadian inilah yang membuat kami semakin akrab. Mamo juga yang ngasih tau aku rahasia minesweeper (permainan bawaan windows) so kami bisa maen cepet-cepetan nemuin bomnya (inget rekor ku Mo, 124 detik dan kau bilang bisa ngalahin itu. Ayo buktikan!). Kau tahu, dari 7 orang warga Bale Selatan hanya kami lah yang mengerti permainan aneh itu. Mamo juga yang mengajari ku untuk hidup ngirit. Pernah suatu ketika, uang ku tinggal 20ribu dan aku baru bisa pulang hari minggu depan karena ada yang harus dikerjakan. Di Pondok Keramat ngga ada orang karena memang lagi liburan so aku harus nyisain 8ribu untuk ongkos pulang lantaran ga bisa pinjem siapa-siapa (sebenernya bisa pinjem sama anak-anak BEM, tapi aku ngga mau. Ini urusanku). Aku pun melakukan seperti apa yang Mamo lakukan dengan sedikit improvisasi. Beli telor setengah kilo, mie (lupa berapa) dan kalo saatnya makan beli nasinya aja setengah (waktu itu masih dapet 1000). Makan 2 kali sehari, pagi mie, sore telor+nasi atau sebaliknya. Nah ini improvisasinya, aku ngga makan mie pake telor. Saat itu aku merasa lebih hebat dari Mamo. Dan masih banyak kenangan lainnya (ihh... masa setelah kalimat terakhir itu aku mau nulis “secara kita bareng terus gitu loh”. Ihhh, menjijikan. Sumpah! Aku ngga bakalan pake kata “secara”. Kata yang aneh, penempatannya sangat tidak tepat. Pertama kali denger “bahasa aneh” ini waktu ada kunjungan dari BEM FEM. Anak-anak BEM FEM, terutama yang wanita, kalau ngomong pake “secara” terus. Aku sampai bingung, artinya tuh apa sih. Aneh!). mamo juga yang punya banyak account dan password untuk internetan gratis di kampus.

Ya Allah jangan buat aku lupa dengan kenangan-kenangan ini.

Dan dari manusia berantakan inilah aku belajar bahwa rizki ngga akan pernah salah alamat.
Ya Allah, semoga hamba masih bisa bertemu dengannya di dunia ini dan pertemukanlah kami di surga-Mu kelak.
Ya Allah, tetapkanlah kami pada agamamu hingga akhir hayat kami..
Ya Allah, permudahlah segala urusan kami di dunia dan akhirat kelak.
Ya Allah, jangan biarkan keadaan memberi titik kecewa pada diri kami
Dan permudahlah kami dalam memahami setiap kejadian yang terjadi di sekeliling kami agar kami bisa tetap yakin bahwa itu adalah yang terbaik dari-Mu untuk kami,

Amiiiin..

Sedih
bila kuingat tentang itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu
Hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini
Tak ingin begini

Sobat
rangkaian masa yang tlah terlewat
Buat batinku menangis
Mungkin karena egoku
Mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini
Maaf aku begini

Bila ingat kembali
Janji persahabatan kita
Takkan mau berpisah
Karena ini
Pertengkaran kecil kemarin
Cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu

edCoustic/Pertengkaran kecil


Dengan baris gigi yang agak berantakan, dia akan tersenyum bila melihatmu. Percayalah. I’ll miss you so much sob.

Rindu dengan kata-kata “Loh e, loh e....”, dengan dengkuran yang keras, dengan lagu “kingkong”, dengan kekeliruannya memanggil nama ku (dia sering manggil aku dengan “wo” dan Sarwo dipanggil dengan “to”. Dan aku akan bertanya “Mo kita kan udah ga sekost-an lagi ma Sarwo, kenapa masih salah?”), rindu dengan rengekannya kalo meminta sesuatu “tooo”, “liiiiiy” atau “woooo”.

Last but not least, Sukses selalu sob.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo....