Beberapa tahun lalu, setelah bentrok AKKBB dan FPI aku janji nggak akan beli koran Tempo lagi. Ketika itu Tempo membuat berita yang bener-bener memojokkan, bukan sebatas FPI tapi umat Islam.
Dan sekarang, saya ga akan nonton lagi KICK ANDY karena ini
Sabtu, 22 Januari 2011
KICK
Selasa, 11 Januari 2011
Next book..
karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus
sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
“jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”
mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia
lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani,
sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji
Salim A. Fillah "Dalam Dekapan Ukhuwah"
Ukhuwah...Kata itu membuat ku seperti orang yang sangat-sangat sendirian beberapa tahun lalu. Ketika seorang kawan berkata "ukhuwahnya berasa banget". Ketika itu aku baru saja merubah haluan kapalku. Terima kasih ya Allah...
Bulan depan harus punya buku ini!
Jumat, 31 Desember 2010
Mungkin itu kuncinya...
Rabu, 29 Desember 2010
FB
Selama join FB, hari ini paling banyak aku bikin status....Agak aneh sih. Aku anggap FB tuh kaya tempat orang cari perhatian. Dunia nyata kayanya ga memberi perhatian lebih pada mereka. Dan aku ngga terlalu suka itu. Jadi inget tulisannya Arys Hilman di Republika, sayangnya lupa di tulis..:(
Okey...siap jadi komentator lagi....atau silent reader aja :D
Ceramah Ust. Sarwat
AFF
Betul kata Pak Adhyaksa, satu-satunya komponen yang bisa membangkitkan nasionalisme Indonesia dewasa ini adalah Olah Raga. Tapi sayangnya, prestasi Olah Raga Indonesia ikutan nyungsep sehingga nyaris ga ada suguhan nasionalisme lagi beberapa tahun belakangan. Sebenernya ada sih, tapi bentuknya agak negatif yaitu pertikaian dengan Malaysia. Hmmm
Bulutangkis, cabang andalan Indonesia dulu, kini sudah terlampaui China, bahkan Jepang pun sudah bisa ngacak-ngacak Indonesia di cabang ini. Ironis karena para pelatih negara-negara itu ada yang berasal dari Indonesia. Dulu kalo ada turnamen bulutangkis seperti Thomas-Uber Cup, Piala Sudirman atau Olimpiade maka ramai-ramai tiap RT bikin lapangan bulutangkis. Ngadain turnamen dan efeknya bisa bertahan berbulan-bulan.
Sudah lama rasa nasionalisme itu berkurang lantaran prestasi olahraga Indonesia, lebih tepatnya bulutangkis, anjlok. Baru sebulan ini lagi kita disuguhkan rasa nasionalisme luar biasa. Kali ini lewat cabang sepak bola, the most popular game in the world. Luar biasa ngikutin pemberitaan tivi tentang tim nasional sepakbola walaupun aku nilai udah keterlaluan mengeksposenya. Ketika final nyaris semua rumah di lingkungan ku nyetel Sepakbola, keliatan pas Sholat Isya tadi. Banyak yang teriak-teriak..Duuhhhh
Dan amat disayangkan kita harus mengakui keunggulan Malaysia. Salut buat para pemain...Saatnya melakukan perbaikan di tubuh pengurus PSSInya.
Huuups gemes banget liat cara Indonesia main apalagi pas partai away di Malaysia.
Sabtu, 11 Desember 2010
?????
Tiba-tiba menangis...Aneh ya?? Walaupun terkadang ingin sendirian, tapi ga bisa dibantah kalau perasaan ingin diperhatikan adalah fitrah. Makanya manusia berlomba-lomba membuat perbedaan. Lalu Allah ciptakan riya, sebagai ujian, yang akan membakar amal seperti api membakar kayu.
Tuhan, sungguh aku takut riya.
Minggu, 05 Desember 2010
No title
Kau tahu dia cantik…
Dan ku tahu kau tertarik…
Memang jadi sedikit pelik…
Tapi biarlah, nanti juga akan menggelitik…
Selasa, 30 November 2010
Sing...
Hidup adalah rangkaian masalah, Sing. Satu ketika, orang tua begitu mempermasalahkan kenapa anak wanitanya belum menikah juga. Maka menikah adalah penyelesaian dari masalah itu.
Apakah selesai sampai di situ? Ternyata tidak Sing. Setelah menikah, terjadi pertengkaran. Sang anak wanita pun tiba-tiba balik ke rumah orang tuanya. Atau setelah beberapa lama menikah, orang tua mempertanyakan kapan punya cucu. Tengok Sing, dari penyelesaian masalah ternyata menimbulkan masalah baru..
Ya, hidup itu memang rangkaian masalah. Dia tidak akan pernah putus sampai ajal menjemput. Ya Allah kuatkanlah………….
Serang
“Antum nanti berdo’a pas akad nikah karena pada saat itu pintu-pintu langit lagi di buka. Banyak orang yang lupa itu dan lebih fokus merhatiin akad”. Wejangan ust. Watoni di pernikahannya Mas Duta.
Tempat-tempat di mana do’a mudah dikabulkan sama Allah sangat terbatas maka Allah menyediakan juga waktu-waktu di mana do’a mudah dikabulkan. Dan yang ini aku baru tau. Do’a apa ya kemarin?
Barakallahulaka wa baraka-alaika wa jama-a bainakhuma fii khoir ya Mas Dut. Nanti saya susul upsss, amiin..jangan-jangan itu do’anya…
Unggul...
Kelas unggulan. Masih inget dengan istilah ini. Jaman SMP dulu, tapi pas angkatan ku ditiadakan. Dulu ada guru yang bercerita betapa enaknya ngajar di kelas unggulan. Bukan Cuma 1-2 orang, hampir semuanya. Hmm, sekarang ngerasain. Emang enak banget ngajar orang yang pada dasarnya cerdas apalagi kalo pada rajin (jadi inget kata-kata gue kalah sama dia cuma karenadia rajin, bukan karena dia lebih cerdas). Sepertinya gampang aja.
Nah, aku ga mau ngomongin itu. Justru yang mau diomongin adalah anak-anak yang ga masuk kelas unggulan. Pertanyaannya adalah, setelah kita tahu (walaupun hanya lewat nilai raport) anak-anak yang ga masuk kelas unggulan agak kurang kenapa jam belajarnya tetap sama? Kenapa cara ngajarnya tetap sama? Itu kan ga memberikan solusi untuk mereka…Seharusnya setelah tau tingkat kepandaian mereka, kita juga membedakan cara mengajarnya. Entah dengan waktu yang lebih lama atau lainnya.
Ngga cuma sebatas dalam 1 sekolah aja. Aku sih inginnya siswa-siswa yang ga bisa masuk negeri karena alasan nilai juga jam belajarnya di tambah. Kecuali mereka masuk sekolah swasta yang bagus. Untuk poin ini, akreditasi yang dilakukan pemerintah seharusnya diperketat. Ahhh..pendidikan malang nian nasibmu…
Kepikiran setelah SMP3 kembali menerapkan kelas unggulan dengan balutan nama kelas efektif. Tidak seperti kelas lainnya, masuk kelas ini harus bayar bulanan. Yaah jadi mirip SBI gitu sih.
Angkutan Umum
Angkutan umum. Apa menariknya? Penumpang yang penuh sesak, sering terkena macet. Pokoknya tidak nyaman! Tapi untukku mungkin sedikit berbeda. Mungkin juga karena keterpaksaan lantaran ketakutan untuk membawa motor, tapi sepertinya itu cuma faktor kecil saja. Aku merasa nyaman dengan angkutan umum, mulai dari angkutan kota, metro mini/miniarta, bus kota, sampai kereta api (kalo busway belum pernah coba :D). Bahkan naik metromini ketika larut malam memberikan nuansa yang lebih. Jalanan Jakarta yang mulai lengang jadi seperti lintasan balap untuk para sopir. Sebagai penumpang, aku sih cuma bisa banyak istighfar dan mohon ampun maklum brutal banget bawanya. Jadi sulit membedakan Metromini dengan Mesjid karena sama-sama tempat mengingat Allah yang intense.
Kenapa angkutan umum menarik? Karena sering sekali dapat pengalaman (kejadian menarik), baik secara visual, audio maupun menjadi pelakunya. Ditambah kesempatan berbuat baik yang begitu besar terutama kalau naik kereta api dan di sana (kereta api-red) juga paling sering menemukan kejadian-kejadian menarik.
Contohnya, seminggu yang lalu di dalam angkot D10. Ketika seseorang yang (sepertinya) mengalami keterbelakangan mental ujug-ujug naik saat ada penumpang yang turun. Sang Supir pun kontan tidak suka dan mengusirnya. Bisa jadi karena dia berpikir pasti anak ini ga bayar dan itu bakalan membuat sang supir merugi karena armada D10 masih cukup jarang. Padahal trayeknya sangat panjang sehingga banyak orang yang rela gelantungan ketimbang menunggu angkot D10 selanjutnya (termasuk aku :D). Cukup beralasan ditinjau dari dunia yang memang sudah sangat money oriented.
Dalam hati aku berucap ya Allah, hanya untuk 2000 rupiah ko begitu banget sih (cara ngusirnya terlalu kasar). Entah lah kenapa jadi kelu untuk berucap udah bang gapapa, nanti saya yang bayar. Walaupun bisa jadi karena kalau penumpang seperti itu naik, selain tidak bayar, juga akan membuat penumpang lainnya enggan untuk naik atau merasa tidak nyaman. Pikiran ku pun melayang jauh. Sepertinya sudah menjadi tabiat umum manusia untuk memandang rendah pada manusia yang tidak sempurna. Masih ingat beberapa tahun lalu di stasiun pasar minggu, ketika seorang pengemis yang sangat bau mendekati ku dan teman-teman. Salah seorang temanku, sambil menutup hidung, berkata bau banget (dengan sedikit berbisik). Aku ga habis pikir ko bisa ya berucap seperti itu didepan subjek. Kalau aku berada pada posisi pengemis itu, pasti akan merasa sangat sakit dan tertohok. Walaupun kenyataannya memang seperti itu. Bayangkan, ketika mendekati seseorang yang ga dikenal dan orang itu berkata bau sambil menutup hidung dan memalingkan muka… Owhhh man, what did you say?
Padahal orang-orang yang kurang tersebut adalah pengingat kita. Bahwa kita jauh lebih beruntung dari mereka. Bahwa Allah sudah mengaruniakan nikmat-Nya, dalam bentuk fisik dan harta, yang lebih banyak ketimbang mereka. Bahwa mata kita, atau tangan kita, atau kaki kita, lebih sempurna dari mereka. Kenapa kita tidak coba untuk saling menghargai? Kenapa kita tidak coba untuk menjaga perasaan mereka? Bukankah kita diajari untuk saling menghargai, entah dari sekolah ataupun dari orangtua kita.
Sekali lagi, mereka hanya pengingat kita, bahwa kita sudah diberi nikmat berlebih. Ayo kita bersyukur.